Desain Ontology e-Learning

Berikut dirancang sebuah prototype e-Learning dengan memanfaatkan ontology pada
education, khususnya pada bagian teaching. Fasilitas yang akan dicapai adalah sebagai berikut :
- meningkatkan kwalitas pembelajaran
- mengarahkan pengajar (penulis) untuk mendapatkan informasi yang relevan
- pembuktian tingkat efektivitas terhadap retrieval dari system e-Learning (waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh informasi)
- fasilitas pendukung seperti search dan diskusi
- menerapkan kemudahan dalam mengakses ke informasi yang dibutuhkan
- improvisasi pengajaran dan atau pembelajaran oleh user
Dalam pembuatan ontology ini, langkah awal meliputi searching dan browsing web dan kemudian melakukan kategorisasi terhadap material yang ditemukan sehingga akhirnya diproses dengan identifikasi dan definisi dari main concept serta metadata content. Hasil dari kategorisasi yang dihasilkan menghasilkan domain concept untuk ontology sebagai berikut :
• Courses: mengidentifikasikan course dengan syllabus, notes, course works.
• Teaching material: mencakup Tutorial (Artikel yang menjelaskan secara detail mengenai tugastugas), Lectures (lecture notes atau slides dalam bentuk/format yang bermacam-macam), Lab material, Book (Online book), Tool (Software yang siap digunakan, Code sample, Work example, dan White paper.
• Assessments: Quizzes (Pertanyaan singkat dengan jawaban singkat, Multiple Choice
Questions (MCQ), Exams tests dengan pertanyaanterbuka, bentuk Test lainnya.
• Support Materials: Collections (Meliputi berbagai sumber, seperti homepage dan portal)
Background readings (pengetahuaan dasar), Forum, Sumber daya yang dapat mendukung pengajaran
• Experts: – mengidentifikasikan sebagaikomunitas pengajar yang berpengalaman.
• Institutions: – Termasuk didalamanya organisasi sumberdaya pengajar dan ahli dibidangnya. Termasuk juga Universitas/Perguruan Tinggi.

Standarisasi e-Learning

Terdapat standarisasi e-Learning yang harus digunakan sebagai acuan pengembangan system :

1. LTSC
Diciptakan oleh Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE) yang telah membentuk banyak standar teknologi untuk electrical, teknologi informasi, dan ilmu pengetahuan. Tujuan dari LTSC ini adalah untuk membentuk akreditasi standar
teknis, memberikan rekomendasi pelatihan, dan menjadi acuan dalam teknologi pembelajaran.

2. IMS
Merupakan organisasi yang penting dalam komunitas e-Learning sejak consortium antara akademisi, perusahaan dan pemerintah untuk membangun dan mendukung open spesification untuk distribusi learning dan pengembangan content dan pertukaran student antara system yang berbeda.

3. ADL
Membuat Shareable Courseware Object Reference Model (SCORM). SCORM merupakan
sebuah spesifikasi standar untuk reusability dan interoperability dari content pembelajaran SCORM fokus pada dua aspek terpenting pada interoperability dari content pembelajaran :
- Mendefinisikan secara agregrat model untuk mengemas content pembelajaran
- Mendefinisikan API yang dapat digunakan untuk komunikasi antara content pembelajaran dengan system yang digunakan

SCORM juga membagi teknologi pembelajaran berdasarkan functional component :
- Learning Management Systems (LMS)
- Shareable Content Object (SCOs)
Terdapat banyak tools yang dapat digunakan untuk memanfaatkan SCROM ini contohnya adalah eXelearning. Pemanfaatanya dalam system e-Learning juga sudah didukung, sebagai contoh adalah system e-Learning opensource Moodle.

e-Learning dan Content

Electronic learning atau e-Learning adalah proses pembelajaran mandiri yang difasilitasi dan didukung melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Martin Jenkins and Janet Hanson, Generic Center, 2003. Dari beberapa sistem e- Learning yang dikembangkan hingga saat ini, secara umum dapat dibagi berdasarkan sifat interaktivitasnya menjadi 2 (dua) kelompok:
• E-Learning yang bersifat statis. Pengguna sistem ini hanya dapat men-download bahan-bahan (content) belajar yang diperlukan. Sedangkan dari sisi administrator, ia hanya dapat meng-upload file-file materi. Pada sistem ini memang suasana belajar yang sebenarnya tak dapat dihadirkan, misalnya jalinan komunikasi. Sistem ini cukup berguna bagi mereka yang mampu belajar otodidak dari sumber-sumber bacaan yang
disediakan dalam sistem ini, baik yang berformat HTML, PowerPoint, PDF, maupun yang berupa video. Kalaupun digunakan, sistem ini berfungsi untuk menunjang aktivitas belajar-mengajar yang dilakukan secara tatap muka di kelas.
• E-Learning yang bersifat dinamis. Fasilitas yang ada pada sistem ini lebih bervariasi dari apa yang ditawarkan sistem pertama. Pada sistem kedua ini, fasilitas seperti forum diskusi, chating, e-mail, alat bantu evaluasi pembelajaran, manajemen pengguna, serta manajemen materi elektronis sudah tersedia. Sehingga pengguna (siswa) mampu belajar dalam lingkungan belajar yang tidak jauh berbeda dengan suasana kelas. Sistem kedua ini dapat digunakan untuk membantu proses transformasi paradigma pembelajaran dari
teacher-centered menuju student-centered. Bukan lagi pengajar yang aktif memberikan materi atau meminta siswa bertanya mengenai sesuatu yang belum dipahami, tetapi disini siswa dilatih untuk belajar secara kritis dan aktif. Sistem e-Learning yang dikembangkan dapat menggunakan pendekatan metode belajar kolaboratif (collaborative learning) maupun belajar dari proses memecahkan problem yang disodorkan (problem-based learning).

e-learning content berbasis semantic web

Perkembangan internet dan e-Learning dengan aplikasi dan tools baru yang menyertainya, secara cepat telah mengubah bentuk atau cara pembelajaran yang lama. Pada masa lalu secara sederhana kita mendistribusikan content e-Learning ke WWW dengan gaya semi tersturktur (dalam bentuk dokumen HTML dengan banyak links ke dokumen-dokumen lain). Sehingga prinsipnya bahwa content tersedia dan dapat diakses secara online.
Namun kenyataannya dalam memperoleh content yang sesuai (dibutuhkan) banyak menjumpai permasalahan yang disebabkan karena terbatasnya pemberian keyword pada content tersebut. Hal ini makin bertambah sulit ketika tidak dijumpainya meta data secara explisit dan informasi yang berkaitan dengan aspek pedagogik dari content
(ketergantungan content). Dengan demikian hanya yang ahli yang dapat menemukan content yang sesuai atau untuk mengorganisasikannya kedalam bentuk heterogen content yang masuk akal.
Munculnya Teknologi Web Semantic, e- Learning content dapat ditambahkan meta data(termasuk didalamnya atribut-atribut pedagogik) dan kemudian di atur/organisasikan kedalam ontology sehingga dimungkinkan memudahkan penyebaran, penemuan, dan penggunaan content dengan cara yang lebih baik. Dengan cara ini tidak hanya manusia yang dengan mudah menemukan dan mengatur content yang diperlukan namun juga agen cerdas. Agen cerdas yang ada pada aplikasi akan
menemukan dan mengelola content dari sumber content yang heterogen kemudian
mengkombinasikan menjadi customized courseware dengan kriteria spesifik dan aturan-aturan lainnya.
Customized courseware ini mengacu pada sekumpulan content (bersumber dari heterogent content) yang mana content-content saling terkait dan aturan pedagogik tetap terjaga.

Lanjut membaca

Pengembangan question/answering portal dengan answer quality predictor pada aplikasi e-learning

Question/Answering Portals adalah sebuah aplikasi berbasis web dimana tiap user dapat mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dan berpartisipasi didalam mengevaluasi pertanyaan dan / atau jawaban dalam berbagai topik. Didalam sistem ini user dapat berinteraksi dan mendapatkan informasi dari berbagai macam user, sehingga akan terbentuk jaringan sosial dengan interaksi heterogen didalamnya. Kebebasan dan kemudahan dalam partisipasi user didalam sistem ini, menyebabkan beragamnya kualitas dari
informasi yang ada didalam sistem. Di dalam Penelitian ini dikembangkan sebuah Question/Answering Portals dengan menambahkan answer quality predictor yang menerapkan metode non-textual feature. Answer quality predictor berfungsi untuk menentukan kualitas dari jawaban yang ada didalam sistem, seberapa berkualitas sebuah jawaban akan  dihitung secara otomatis dengan menggunakan metode non-textual feature. Metode ini menggunakan fitur-fitur non-textual pada sebuah jawaban seperti panjang jawaban, rekomendasi user, jumlah klik, dan beberapa fitur lainnya dengan total 11 fitur. Dengan menerapkan question quality predictor akan dapat diketahui secara otomatis kualitas dari suatu jawaban

Lanjut membaca

Implementasi fitur perekomendasian bahan ajar berdasarkan prior knowledge pada student centered e-learning environment

Dalam proses pembelajaran seringkali diasumsikan bahwa pembelajar memiliki prior knowledge yang sama.Padahal dalam realitasnya tidaklah selalu demikian. Di sinilah urgensi fasilitas perekomendasian bahan ajar (learning object recommender) untuk meningkatkan kualitas interaksi dalam hal ini kegiatan diskusi dalammengkonstruksi pengetahuan baru dengan mekanisme pengayaan prior knowledge pembelajar. Tulisan inibertujuan untuk memperkenalkan sistem yang akan memberikan rekomendasi bahan ajar berdasarkan informasi tentang prior knowledge pembelajar. Pengembangan fitur perekomendasian bahan ajar yang dielaborasi dalam tulisan ini adalah pengembangan fitur perekomendasian dengan pemilihan bahan ajar secara statis (pre-defined) di atas Student Centered E-Learning Environment (SCELE). SCELE sendiri merupakan learning management system berbasis sistem open source, yaitu Moodle dan telah dimodifkasi sesuai kebutuhan. Dengan memanfaatkan fitur ini, mahasiswa mendapatkan bahan ajar sesuai dengan prior knowledge yang dimiliki, seperti level dasar (basic), menengah (medium), dan tinggi (advance). Lanjut membaca

Sistem Rekomendasi Bahan Ajar untuk e-learning

Sistem rekomendasi bahan ajar untuk eLearning diperlukan agar pemberian bahan ajar dapat diserap secara efektif oleh siswa. Rekomendasi yang diberikan harus memperhatikan beberapa faktor seperti tingkat pemahaman siswa yang berbeda-beda, kualitas bahan ajar yang diberikan, dan bahan ajar yang direkomendasikan harus dapat membantu mentupi kelemahan siswa. Untuk itu, teknik rekomendasi yang digunakan juga tidak hanya menggunakan sebuah teknik rekomendasi. Teknik utama yang digunakan dalam rekomendasi di sini adalah dengan menggunakan model-based collaborative filtering dan rekomendasi berdasarkan kelompok siswa.

Learning Management System; perencanaan pembuatan e-learning

d7Ada dua bagian utama e-learning, yaitu learning Management System dan e-learning content atau materi pelajaran e-learning yang akan dipelajari oleh pemakai. Learning management System (LMS) adalah sistem yang membantu adaministrasi dan berfungsi sebagai platform e-learning content. Apabila memiliki banyak materi pelajaran e-learning, kita tidak hanya meletakkannya pada layar desktop komputer dalam bentuk icon. Bagaimana bila kita memiliki lebih dari 100 judul pelajaran e-learning? Layar komputer kita tentu akan penuh. Oleh karena itu kita perlu memiliki LMS sebagai sistem yang mengatur e-learning content atau mata pelajaran e-learning. Suatu studi yang dilakukan oleh Gartner menyatakan bahwa 60% seluruh perusahaan di Amerika menggunakan LMS pada tahun 2003.

E-learning dapat membantu administrasi kegiatan pelatihan kita. LMS inilah yang berperan banyak dalam membantu administrasi. LMS pun mengatur semua kegiatan e-learning. Organisasi sendiri dapat memilih membuat LMS sendiri atau membeli yang sudah jadi dan tersedia di pasaran. Keputusan tergantung dari kemampuan oang-orang di organsasi serta waktu dan dana yang tersedia.  Apapun keputusan oraganisasi , haruslah membuat dan mengemas LMS sehingga dapat dipakai bekerja dan mempunyai fungsi sesuai keinginan pemakai

Pemetaan Learning Technology System Architecture (LTSA) pada LMS Moodle

sempoaLearning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu arsitektur standar internasional yang digunakan untuk menggambarkan rancangan sistem pembelajaran jarak jauh ( distance learning) beserta komponen-komponennya. Arsitektur ini bermanfaat sebagai pedoman dalam pengembangan suatu sistem distance learning, baik dengan sistem yang kompleks atau sederhana. Dengan penerapan LTSA pada suatu institusi pendidikan diharapkan dapat mengurangi kendala pembelajaran yang disebabkan oleh jarak dan waktu serta dapat meningkatkan kualitas dari sistem pendidikan yang ada.

Dalam implementasi LTSA, diperlukan suatu Learning Management System (LMS) yang mampu mengakomodir fungsi-fungsi dan komponen yang sudah dispesifikasikan olehnya. Sehingga implementasi LTSA akan menjamin interoperabilitas dan portabilitas dari sistem yang menggunakannya. Salah satu LMS yang memiliki fitur lengkap untuk mengakomodir komponen LTSA adalah Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (MOODLE). Disamping memiliki fitur dan modul yang banyak, Moodle juga merupakan sebuah proyek berkelanjutan dan tanpa henti yang bersifat open source.

Tujuan akhir adalah mengetahui bagaimana pemetaan fungsi-fungsi yang ada pada Moodle terhadap spesifikasi LTSA yang dapat mendukung proses pembelajaran jarak jauh di suatu institusi pendidikan.

E-Readiness : Menjembatani Infrastruktur ICT dan Keberhasilan e-learning

E-Readiness organisasi

e-readynessE-Readiness organisasi terdiri atas dimensi kemauan dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam konteks pembelajaran. Kemauan dapat diketahui dari e-leadership dan budaya organisasi. Kemampuan organisasi dapat diketahui dari kemampuan mengelola teknologi informasi dan anggaran yang tersedia bagi pengembangan pembelajaran berbasis teknologi informasi.

E-leadership merupakan upaya dan prioritas yang akan ditempuh organisasi didalam mengantisipasi dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Upaya dan prioritas ini terkait dengan visi dan misi organisasi yang dapat secara jelas sesuai dengan konteks perkembangan teknologi informasi. Upaya dan prioritas dapat diwujudkan dalam kebijakan yang mendukung pemanfaatan teknologi informasi untuk pembelajaran.

Budaya dalam konteks e-learning dapat diukur dari behaviour. behaviour merupakan kebiasaan yang terkait dengan penggunaan teknologi informasi untuk pembelajaran sehari-hari. kebiasaan menggunakan teknologi informasi dapat mencakup pola interaksi antar staff pengajar dan mahasiswa, pemanfaatan teknologi sebagai sumber belajar dan penggunaan teknologi sebagai alat bantu.

Permasalahan sistem e-learning

Web merupakan suatu basis data yang tidak terstruktur dan sangat besar . Web terdiri dari berbagai konten. Web  yang saat ini dijadikan dasar pengembangan e-learning memiliki sejumlah permasalahan , yaitu :

1. Informasi yang overload , yang menyebabkan munculnya sampah informasi , dimana pengguna menerima begitu banyak informasi di internet yang tidak dibutuhkannya.

2.  Informasi yang tidak akurat yang sering kita dapatkan ketika kita sering menggunakan mesin pencari, dimana hasil pencarian tidak didasarkan pada konteks dari pencarian akan tetapi hanya pada frekuensi kemunculan kata kunci yang dimasukkan.

3. Konten yang tidak dapat dimengerti oleh mesin, dimana informasi yang ada pada web pada dasarnya ditujukan bagi konsumsi manusia bukan mesin. Sehingga mesin atau aplikasi tidak dapat menangkap arti dari data-data yang ada pada internet.

Learning Management System

lms3Learning Management System adalah sebuah sistem yang digunakan untuk menyebarkan, mengatur, menelusuri dan melaporkan interaksi yang terjadi antara siswa dengan materi serta siswa dengan instrukturnya. Secara khusus LMS akan mengatur mulai dari registrasi siswa, pembelajaran siswa, menelusuri progres pembelajaran siswa, melakukan test (ujian) dari materi, menyimpan hasil test siswa, sampai pada informasi nilai ujian secara keseluruhan dari satu atau beberapa materi yang dipelajari oleh siswa.

Learning management system memiliki beberapa fungsi yang dapat dijadikan pijakan dalam perancangan sistemnya. Ada dua pendekatan untuk memahami fungsi dari LMS. Pertama perancangan LMS berdasarkan prosesnya dan perancangan fitur berdasarkan tool set dari penggunanya.