Jenis e-procurement dan karakteristiknya

1. EDI Networks :  kumpulan kecil rekanan dagang, fungsionalitas transaksi yang sederhana, batch processing, Value added Network (VAN)

2. Corporate Procurement Portals : meningkatkan pengendalian atas proses pengadaan, katalog yang spesifik dan banyak dukungan terhadap analisis pengeluaran dan kinerja pemasok, Fokus bahan baku tidak langsung

3. Trading Exchange  First Generation (community Oriented) : muatan industri, klasifikasi kerja dan berita, muatan produk dan layanan pengumpulan katalog

4. Trading Exchanges Second Generation (transaction oriented) : Proses permintaan terotomatisasi dan pemrosesan PO, pemasok , harga dan temuan ketersediaan barang dan jasa , manajemen katalog dan kredit

5. Trading Exchanges Third Generation (collaborative SC) : Penyelarasan operasi antar rekanan (real time) , transparansi proses yang memfasilitasi restrukturisasi permintaan dan rantai pasok

Arsitektur informasi untuk e-procurement persediaan maintenance, repair and operation berbasis TOGAF dan Zachman

Pilihan teknologi tradisional dalam otomasi proses pengadaan tidak langsung selama ini jatuh pada skenario beli atau membuat sendiri. Perkembangan teknologi e-business kini melebarkan pilihan pada outsourcing (sebelumnya hanya membeli), yang turut menggeser peran aktivitas pengadaan ke arah strategis. Berbagai pilihan tersebut dan juga kompleksitas yang terkait dengan pengadaan membutuhkan suatu kerangka arsitektur agar organisasi terhindar dari ketidakselarasan antara infrastruktur IT dengan kebutuhan bisnis pengadaan. Makalah ini mencoba mengangkat pemodelan arsitektur informasi sebagai sarana integrasi aplikasi e-procurement pada proses bisnis pengadaan barang dan jasa. Kerangka arsitektur informasi TOGAF dan Zachman akan digunakan sebagai acuan sebagai pertimbangan calon pembeli ketika mentransformasikan proses pengadaannya. Fokus arsitektur ditekankan pada fungsionalitas dan kemampuan sistem, faktor-faktor penentunya dalam pengadaan dan pemetaan antara kedua kerangka arsitektur informasi tersebut. Sebagai hasilnya, suatu kerangka terintegrasi yang dapat membantu penerapan aplikasi e-procurement akan dibahas. Lanjut membaca

Good government via e-procurement system

Public procurement in government context involved complicated processes and too budget-consuming. Inadequate and not transparency information are the main factors that cause corruption and data manipulation. However, to avoid such problems, the development of web-based e-procurement system gives priority to integrity, transparency, accountability, fairness, economy, and efficiency is needed. The e-procurement system mentioned involved five main modules such as vendor management system, announcing the acquisition of good and services, electronic access to tender documents, tender submission document, and tender selection. This eprocurement system gives privileges to all of the committee members in calculating marks to determine the winners based on their committee position. Moreover, this e-procurement system can automatically alert important events such as the due date of registration, the marking date, and the date of winner announcement. By using this e-procurement system, three stakeholders can see the benefits. First, in term of government side where reducing procurement cost, transparency, time saving, access to new supplier, and blacklist vendor. Second, in term of vendor’s side where reducing cost, accessing to new buyers and increasing sales. Third, in term of public society where adequate information, and public trusts. Hopefully, good governance can be achieved by implementing this e-procurement system. Lanjut membaca

Implementasi e-procurement pada rumah sakit

Pengadaan obat bagi rumah sakit merupakan proses yang penting dan utama bagi kegiatan operasional rumah sakit. Oleh karena itu menjaga kesinambungan pengadaan obat dan menjalin hubungan baik dengan supplier
farmasi merupakan aktivitas yang harus selalu dijaga. Proses pengadaan pada umumnya membutuhkan banyak waktu dan sumber daya. Dengan penggunaan aplikasi e-procurement yang berbasiskan web diharapkan dapat membantu rumah sakit meningkatkan efisiensi ektivitas pada proses pengadaan obat. Lanjut membaca

e-procurement

eprocurementPengadaan (procurement) adalah proses antar organisasi yang dilakukan oleh dua peran : pembeli dan penjual , dengan tujuan si pembeli membeli barang atau jasa dari penjual. Hal ini dikerjakan dengan adanya pertukaran berbagai dokumen, diikuti dengan pertukaran barang dan uang. Terdapat perbedaan yang cukup jelas antara pengadaan dengan pembelian, dimana pemebelian hanyalah semata-mata aktivitas pembayaran barang dan jasa. Sementara pengadaan, selain proses pembelian, berbicara lebih jauh yang dapat dipandang sebagai sebuah siklus. Siklus tersebut dapat dipandang sebagai serangkaian peristiwa permintaan barang, persetujuan, hingga ke proses pembayarannya.

Aktivitas pengadaan dapat dibedakan menjadi dua poin utama, yaitu : pengadaan tidak langsung dan pengadaan langsung. Indirect procurement mencerminkan proses pengadaan untuk komoditi yang tidak menghasilkan barang jadi. Pengadaan ini meliputi dua jenis barang, yaitu barang-barang keperluan kantor (sering disebut Oerating Resource Management-ORM) dan barang-barang keperluan pemeliharaan (sering disebut maintenance, Repair, and Operation – MRO). Kedua jenis barang ini memiliki nilai beli dari yang harga per-unitnya rendah seperti seperti perlengkapan hingga yang harga per unitnya cukup tinggi seperti jasa konsultasi dan peralatan berat.