Tidak Besedekah dan Tidak Berjihad, Lalu dengan Apa Anda Akan Masuk Surga?

Dari Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendatangi Rasululah Saw untuk membaiatnya atas Islam. Kemudian Rasulullah mengajukan syarat kepadaku: “Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad hamba sekaligus Rasul-Nya, mendirikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah.

Aku berkata, wahai Rasulullah: Ada dua syarat dimana aku tidak mampu. Pertama, zakat. Sebab saya tidak memiliki kecuali sepuluh unta. Unta-unta itu penopang hidup keluargaku dan kendaraan mereka.

Kedua, jihad. Dalam hal jihad ini mereka mengatakan bahwa siapa saja yang lari dari medan jihad, maka ia akan mendapat murka Allah. Aku khawatir bahwa ketika aku ikut dalam sebuah peperangan, aku takut mati, sehingga jiwaku menjadi lemas.

Rasulullah memegang tangannya, lalu menggerakkannya. Selanjutnya beliau bersabda: “Tidak bersadaqah dan tidak pula berjihad, maka dengan apa Anda akan masuk surga?

Aku berkata, wahai Rasulullah: “Aku membaiatmu.” Kemudian beliau membaiatku dengan semua syarat tersebut. (Hadis ini diriwayatkan oleh Baihaqi dan Hakim. Sedang Hakim men-shahih-kannya, dan disepakati oleh ad-Dzahabi).

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 1/8/2010.

Renungan Hidup

Saat tulisan ini dibuat, dua hari lagi, tahun Hijrah segera berganti, dari tahun 1430 H ke 1431 H. Lima belas hari lagi, tahun Masehi berganti, dari tahun 2009 ke tahun 2010. Beberapa hari lagi, kawan saya si Fulan genap berusia 38 tahun. Itu berarti jatah hidupnya telah berkurang lagi setahun dibandingkan tahun lalu. Ia lalu mengajak saya untuk merenung. Ia kemudian berandai-andai sebagai berikut:

Andai jatah hidup kita di dunia ini 60 tahun, dengan usia kita saat ini 38 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 22 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 50 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 12 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 40 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 2 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umur kita sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Ijrail mencabut nyawa kita? Duh! Betapa singkatnya hidup 38 tahun. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 22 tahun, 12 tahun, 2 tahun, atau malah cuma dua hari lagi…

Mendengar ’ocehan’-nya, saya mulai tersentak. Diam-diam, saya pun mulai merenungkan kata-katanya. Ia lalu melanjutkan:

Andai selama 38 tahun itu kita tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidup kita hanya dipakai untuk tidur, yakni sekitar 12,7 tahun. Andai sisa waktu kita perhari yang tinggal 16 jam itu kita pakai 4 jam untuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan melakukan hal-hal yang tak berguna, berarti sisa waktu kita perhari tinggal 12 jam. Sebab, yang 12 jamnya dipakai untuk tidur dan melakukan hal-hal tadi. Dua belas jam berarti setengah hari. Jika ia dikalikan 38 tahun, berarti 19 tahun (separuh umur kita) hanya kita pakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tak berguna.

Saya makin termenung. Diam-diam saya makin hanyut dalam kontemplasinya. Ia pun bertutur lagi:

Dalam usia 38 tahun itu, kita, misalkan, baru mulai bekerja efektif pada usia 25 tahun. Berarti kita bekerja sudah 13 tahun. Jika rata-rata kita bekerja 8 jam perhari, berarti kita telah menghabiskan waktu kita untuk bekerja 1/3×13 tahun=3,9 tahun. Artinya, dari 38 tahun itu kita menghabiskan total kira-kira 22,9 tahun hanya untuk tidur dan bekerja mencari dunia; termasuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan mungkin melakukan hal-hal tak berguna.

Mari kita bandingkan dengan aktivitas ibadah kita, juga dakwah kita. Andai shalat kita yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti kita hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya sekitar 23 hari pertahun. Andai kita baru benar-benar menunaikan shalat umur 15 tahun (saat mulai balig), berarti kita baru menghabiskan sekitar 414 hari (=23×18 [38-15]) untuk shalat. Artinya, selama 38 tahun, kita menunaikan shalat hanya 1 tahun 49 hari!

Bagaimana dengan aktivitas dakwah kita? Andai dakwah kita baru kita mulai pada usia 20 tahun dan hanya memakan waktu rata-rata 2 jam perhari, berarti kita menghabiskan waktu kira-kira 547,5 hari untuk berdakwah. Artinya, kita hanya menghabiskan waktu 1,5 tahun saja untuk berdakwah.

Aku semakin larut dalam kata-katanya. Emosiku tak tertahan. Namun, si Fulan kawanku terus saja ’berceloteh’. Ia lalu mengajakku untuk merenungkan kembali firman Allah SWT (yang artinya): Tidaklah Aku menciptkan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [51]: 56). Ia kemudian bertutur lagi:

Saat merenungkan kembali ayat itu, hatiku menangis. Betapa tidak. Allah menciptakan hidupku dan memberiku usia sekian puluh tahun sesungguhnya agar aku gunakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun kenyataan-nya, hidupku habis untuk tidur dan bekerja mencari dunia, juga melakukan hal yang sia-sia. Sebaliknya, hanya sebagian kecil usiaku aku habiskan untuk ibadah dan dakwah.

Saya menyela, “Bekerja kan termasuk ibadah juga.”

Namun, segera ia mengajukan pertanyaan retoris kepada saya:

Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal kita ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalat kita yang jarang sekali khusyuk itu ditolak oleh Allah? Bagaimana pula jika dakwah kita pun—yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis—tak dipandang oleh Allah?

Betul. Kita tidak boleh pesimis. Kita harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal kita Dia terima. Namun, kita pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini kita anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzu billâh. Kita memang tidak berharap seperti itu.

Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali kita bermaksiat. Kalikan saja, misalkan, dengan 23 tahun usia kita (38 tahun dikurangi masa kanak-kanak prabalig).

Tak terasa, saya pun mencucurkan air mata, tak kuasa menahan tangis, seraya bergumam, “Ya Allah, setiap detik karunia dan nikmat-Mu turun kepadaku. Namun, setiap detik pula dosa dan kesalahanku naik kepada-Mu.”

Saya lantas berdoa dengan doa Nabi Adam as.:

Ya Allah, Tuhan kami. Selama ini kami hanya menzalimi dan menganiaya diri kami sendiri. Jika saja Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami dan mengasihi kami, tentu kami termasuk orang-orang yang merugi.

Saya pun bedoa dengan doa Imam al-Ghazali:

Tuhanku, tidaklah pantas aku menjadi penghuni Firdaus-Mu. Namun, tak mungkin pula aku kuat menahan panasnya Neraka-Mu. Karena itu, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesunguhnya Engkau Maha Pengampun dosa dan Engkau Mahabesar. Amin.

Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. [Arief BI]

Berlindung dari Setan

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، من الجنة والناس

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia; dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia; dari (golongan) jin dan manusia.” (QS an-Nas [114]: 1-6)

Dalam Mushaf al-Quran surah ini diletakkan pada surat terakhir sesudah QS al-Falaq. Surah ini terdiri dari enam ayat. Menurut Ibnu ‘Abbas, surat ini termasuk Makiyyah, sedangkan menurut Ibnu az-Zubair Madaniyyah.1 Bersama-sama dengan surah al-Falaq, surah ini juga disebut al-mu’awwidzatayn. Dari ‘Uqbah bin Amir ra:

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُنْزِلَ أَوْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَاتٌ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ الْمُعَوِّذَتَيْنِ

Rasulullah saw. bersabda kepadaku, “Telah diturunkan kepadaku beberapa ayat yang tiada yang sebanding dengannya, yakni al-mu’awwidzatayn (HR Muslim dan Ahmad).
Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: Qul a’ûdzu bi Rabb an-nâs (Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan [yang memelihara dan menguasai] manusia.”). Perintah qul ditujukan kepada Rasulullah saw.; tercakup pula di dalamnya adalah umatnya. Mereka diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya. Kata a’ûdzu bermakna atahashshanu wa astajîru (saya berlindung dan meminta penjagaan).2 Permohonan perlindungan itu ditujukan kepada Rabb an-nâs.

Kata ar-rabb merupakan musytaq (kata bentukan) dari kata at-tarbiyah.3 Secara bahasa, kata ini mengandung beberapa pengertian, yakni: al-mâlik wa as-sayyid wa al-mudabbir wa al-murabbi wa qayyim wa al-mun’im (pemilik, tuan, pengatur, pendidik, penanggung jawab dan pemberi nikmat).4 Dipaparkan pula oleh Ibnu al-Manzhur bahwa kata ar-rabb terbagi menjadi menjadi tiga bagian, yakni: al-mâlik (pemilik); as-sayyid al-muthâ’ (tuan yang ditaati), seperti dalam firman-Nya: Fayasqî rabbahu khamr[an] (akan memberi minum tuannya dengan khamr/QS Yusuf [12]: 41); dan al-mushlih (yang memperbaiki). Lanjut membaca

‘Jalan Kepayahan’

oleh Arief B. Iskandar dalam majalah al waie edisi november 2009

Panggilannya Pak Soma. Usianya sekitar 60-an. Saya pertama kali mengenalnya sejak pindah rumah ke kampungnya, persis dekat rumahnya. Saat itu kami berdua sama-sama menunaikan shalat magrib berjamaah. Dari guratan wajahnya, ia tampak seorang yang tegar.

Awalnya, saya melihat Pak Soma biasa-biasa saja. Memang, ada satu hal yang membuat siapapun trenyuh. Ya, ini karena secara fisik Pak Soma bukanlah manusia sempurna. Ia seorang yang cacat. Salah satu kakinya buntung dan hanya tinggal seperempatnya. Karena itu, kemana-mana ia bergantung pada kedua tongkatnya.

Sebetulnya ada banyak orang yang senasib dengan Pak Soma. Namun, mungkin tidak banyak orang cacat yang taat beribadah, termasuk tak pernah ketinggalan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid, seperti Pak Soma. Padahal jarak rumahnya ke masjid cukup jauh, hampir setengah kilometer. Yang membuat ia semakin luar biasa, dengan melepas tongkatnya, ternyata ia shalat tetap sambil berdiri, tentu dengan satu kaki. Ia tidak pernah shalat sambil duduk. Bayangkan, dalam salat berjamaah di masjid itu, berdiri dan rukuk satu rakaat saja Pak Soma kadang membutuhkan 2-3 menit, apalagi imamnya ternyata bacaannya sering panjang-panjang. Belum lagi ia dikenal rajin melakukan shalat-shalat nafilah dan shalat-shalat sunnah lainnya: tahajud, dhuha, hajat, dll; juga dengan satu kaki.

Saat saya tanya, mengapa tidak salat sambil duduk saja, toh secara syar’i dibolehkan karena ada uzur. Apalagi berdirinya Pak Soma dalam shalat juga kadang tidak selalu stabil; kakinya tampak sering bergetar dan goyah, terutama saat harus berdiri agak lama. Namun, dengan mantap Pak Soma menjawab. “Saya ingin, kepayahan saya dalam mendirikan shalat menjadi bukti kesungguhan saya dalam beribadah kepada Allah, yang akan saya tunjukkan saat menghadap kepada-Nya di Akhirat kelak.” Lanjut membaca

Misi Islam

Ruba’i bin Amir melaju cepat dengan kudanya. Ia menuju perkemahan Rustum, Panglima Pasukan Kerajaan Persia saat itu. Setibanya di sana, ia mendapati semua pembesarnya berpakaian kenegaraan. Majelis mereka dihiasi dengan hamparan permadani dan sutra yang serba mahal. Rustum duduk di singgasananya. Ia memakai mahkota emas yang dihiasi dengan batu permata yang serba mahal. Sebaliknya, Ruba’i bin Amir, Panglima Pasukan kaum Muslim itu, hanya berpakaian kasar dan sederhana.

Ruba’i bin Amir  langsung masuk ke perkemahan itu tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ia tetap menunggang kudanya dan membiarkannya kaki kuda itu mengotori hamparan permandani yang serba mahal itu. Tiba-tiba ia berhenti, kemudian turun dari kudanya sebelum sampai di hadapan Rustum yang menantinya. Rupanya, Rustum telah sengaja memasang sebuah palang besi setinggi setengah badan. Dengan itu, dia berharap Pemimpin Pasukan Muslim itu mau berjalan menghadap dirinya dengan membungkukkan badannya. Namun, Ruba’i bin Amir tak kalah cerdik. Dia kemudian membalikkan tubuhnya, lalu berjalan mundur seraya membungkukkan badannya sehingga pantatnya menunggingi sang Panglima Persia itu.

Ruba’i lalu berjalan menghadap Rustum dengan tetap menyandang tombaknya. Seketika itu pula hamparan permadani itu terkoyak-koyak oleh senjatanya. Melihat itu, para pembesar itu segera berseru, “Letakan senjata itu!”

Ruba’i menjawab, “Aku datang kemari hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian suka, biarkan aku dalam keadaanku seperti ini. Kalau tidak, aku akan pulang.”

“Biarkan ia menghadap!” kata Panglima Rustum.

Rustum lalu mengajukan sebuah pertanyaan, “Apa yang mendorong kalian datang ke negeri kami?” Lanjut membaca

Bercermin Pada Kepahlawanan Shahabiyat

oleh  : Najmah Saiidah

Kita semua sudah mengenal nama-nama seperti Abubakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khoththob, Utsman bin ‘Affan, Saad bin Abi Waqosh, Muadz bin Jabal, Salman Al-Farisi dan sebagainya.  Mereka adalah para pahlawan muslim yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah dan RasulNya dan memperjuangkan Islam ke seluruh penjuru dunia.  Akan tetapi sebagian umat Islam kurang mengenal para`perempuan yang mereka juga hidup di masa Rasulullah (shahabiyat) yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat  Allah dan RasulNya dan memiliki andil besar`dalam memperjuangkan Islam dan kaum muslimin.   Di antaranya Khadijah binti Khuwailid, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Sulaim, dan banyak lagi yang lainnya.

Dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu.  Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik dan juga publik sekaligus.  Sehingga dimasa peradaban Islam tidaklah mengherankan jika kita mendapati banyak figur waita terbaik dan termulia sepanjang zaman. Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam, membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan, mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam –yang direfleksikan dengan ketaatan kepada risalah yang dibawanya–, bersabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati yang dijamin masuk syurga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agamaNya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabilillaah demi meraih mardhatillah dan jannhaNya. Lanjut membaca

Peringatan Bagi Pemburu Dunia

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ اْلآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Siapa saja yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinannya selalu membayang di pelupuk kedua matanya; tidak akan datang kepadanya bagian dari dunia kecuali yang telah ditetapkan untuknya. Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menghimpunkan untuknya urusannya dan menjadikan kekayaannya ada di dalam hatinya, dan dunia mendatanginya, sementara dunia itu remeh dan rendah. (HR Ibn Majah, Ahmad, al-Baihaqi, Ibn Hibban, ad-Darimi dll).

Ibn Majah mengeluarkan hadis ini di dalam Sunan-nya, Ibn Hibban di dalam Shahîh Ibn Hibbân, ad-Darimi di dalam Sunan ad-Dârimi, Imam Ahmad di al-Musnad, al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-خmân melalui tiga jalur. Hadis ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah li Ibn Abiy ‘آshim, ath-Thahawi di dalam Syarh al-Musykal al-Hadîts, ath-Thabrani di Mu’jam al-Kabîr dan oleh yang lainnya. Semuanya dengan sanad bersumber dari penuturan Zaid bin Tsabit.

Menurut al-Haytsami di dalam Majma’ az-Zawâid, para perawi hadis ini tsiqah. Maher Yasin Fahal di dalam catatan kaki Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam menyatakan bahwa hadis ini sahih. Lanjut membaca

Bercermin pada Umar bin Abdul Azis

umar azisUmar bin Abdul Azis adalah khilafah bani Umayyah yang masyhur. Wilayah yang dipimpinnya membentang dari tepi laut Atlantik sampai ke daratan tinggi di Pamir. Suatu hari, ia duduk di ruang kerjanya mempelajari setumpuk dokumen negara. Cahaya lampu yang suram di kamarnya menambah ketenangannya. Khalifah hampir tidak mengetahui kehadiran istrinya, Fatimah, sampai ia menyapanya.

“Yang Mulia! maukah Anda memberikan waktu untukku sejenak? Saya ingin merundingkan masalah pribadi dengan Anda.” ‘Tentu saja,” jawab khalifah. “Tapi tolong matikan lampu itu, yang milik negara, dan nyalakan lampu kita sendiri. Aku tidak mau memakai minyak negara untuk pembicaraan pribadi.” Dan itu dipatuhi sang istri.

Pada suatu hari, Khalifah mengundang beberapa tokoh keluarga Umayyah untuk makan malam, tetapi sebelumnya ia telah memerintahkan juru masak agar menunda dulu penyiapan makanan. Ketika akhirnya para tamu mulai merintih kelaparan, baru khalifah berteriak agar juru masak segera menyediakan santapan,  tetapi ia memerintahkan agar sambil menunggu dihidangkan dulu roti panggang. Santapan sederhana ini langsung disantap Umar, yang diikuti para tamunya yang kelaparan. Beberapa waktu kemudian, juru masak muncul menghidangkan santapan yang sudah siap dimakan, tetapi ditolak oleh tamu-tamu itu. Alasannya, mereka sudah kenyang. Pernyataan itu segera ditanggapi khilafah, “Saudara-saudara! Jika Anda bisa memuaskan nafsu makan dengan makanan sederhana, lalu mengapa Anda suka sewenang-wenang dan merampas hak orang lain?” Ucapan itu ternyata sangat menggugah, sampai para bangsawan Umayyah itu meneteskan air mata.

Suatu hari isterinya mendapatkan ia sedang menangis di tikar shalat, yang mendorong wanita itu menanyakan sebab-sebabnya. Umar menjawab : ” O, Fatimah! Aku telah diangkat menjadi pemimpin kaum muslimin dan orang asing. Yang sedang aku pikirkan sekarang adalah nasib orang-orang miskin yang kelaparan, orang melarat yang sakit, yang tidak berpakaian dan menderita, yang tertindas, orang asing yang dipenjara, para sesepuh yang patut dimuliakan dan mereka yang berkeluarga besar hanya mempunyai sedikit uang, serta mereka yang berada di tempat-tempat yang jauh. Aku merasakan tentu Allah akan menanyakan keadaan mereka, yang berada di bawah kekuasaanku, pada hari kiamat. Aku takut tak ada sesuatu pembelaan yang dapat membantuku, karena itu aku menangis. “

Umar tidak pernah mau menerima hadiah dari siapapun. Ia meyakini hadiah adalah bentuk penyuapan. Betul saja, ketika ia meninggal, hanya meninggalkan uang 17 dinar, dengan wasiat agar sebagiannya untuk sewa rumah tempatnya meninggal, sedang sebagian lagi ia minta dibayarkan untuk harga tanah tempatnya dimakamkan. Subhanallah.

Menjadi Pemimpin yang adil dan amanah

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (TQS. al-Nisaa’ [4]: 58)

Kekuasaan acapkali diidentikan dengan kemudahan memperoleh fasilitas, popularitas, harta, bahkan wanita. Akibatnya, banyak orang mengidamkannya. Persaingan dan perebutan untuk meraih posisi itu pun menjadi tak terelakkan. Tak sedikit yang menghalalkan segala cara, taktik, dan strategi untuk meraih kekuasaan. Karena berangkat dari persepsi demikian, tak aneh jika ketika kekuasaan berhasil digenggam, kepentingan dirinya menjadi prioritas utama untuk dipenuhi. Sementara kepentingan rakyat tak hanya terabaikan, tetapi seringkali harus dikorbankan manakala bertabrakan dengan kepentingan penguasa.

Perilaku buruk itu tidak perlu terjadi jika kekuasaan dipahami sebagai amanah yang harus ditunaikan. Sebagai amanah, kekuasaan itu kelak harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Berkaitan dengan hal ini, firman Allah swt. dalam QS. al-Nisa’ [4]: 58 sangat relevan untuk ditelaah. Sekalipun ayat ini tidak spesifik ditujukan kepada penguasa, namun mereka memikul beban amanah lebih berat daripada rakyat yang dipimpinnya. Lanjut membaca

Tahun Ini Pemerintah Akan Membayar Utang Senilai Rp. 127,607 Triliun

Tahun ini pemerintah akan membayar utang senilai Rp. 127,607 triliun. Jumlah pembayaran terbesar sejak 2004. Semua pembayaran itu akan ditutup dari utang baru (kompas.com,9/10)

KOMENTAR:
(1) Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Negeri Muslim terbesar ini tidak akan selamat dari musibah, kalau negara dikelola dengan gali lubang tutup lubang;
(2) Aneh, pendapatan dari pajak terus meningkat, dan 75% APBN dari pajak, sisanya: 25% dari Migas dan UTANG. Ke mana larinya kekayaan alam negeri yang melimpah ini?
(3) Ini bukti, kekayaan alam negeri yang melimpah tidak membawa berkah, karena tidak diatur dengan syariah…

Bertaubat Dengan Menjadikan Islam Sebagai Way Of Life

Oleh : Ihsan Tandjung

islamBanyak fihak yang berpendapat bahwa negeri Indonesia, yang kita cintai karena Allah, dilanda musibah demi musibah karena Allah hendak memberikan ”serious warning” (peringatan keras) kepada ummat Islam agar bertaubat dari berbagai maksiat yang kian tampil secara terang-terangan.

Sejujurnya, kemaksiatan yang hadir dewasa ini di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, sudah meliputi segenap aspek kehidupan. Silahkan Anda renungkan…! Kemaksiatan alias kedurhakaan kepada Allah dapat kita temukan dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, media massa, pendidikan, hukum, militer dan pertahanan-keamanan. Segenap aspek kehidupan tersebut telah dikembangkan dengan semangat mengabaikan bagaimana sebenarnya Allah menuntut kita mengelolanya. Manusia menyangka bahwa semua aspek hidup itu boleh dikembangkan seenaknya menurut selera dan hawa nafsu manusia. Meminjam bahasa saudara Adian Husaini beliau menulis sebagai berikut:

”Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom of expression) — dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!”  Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!” Lanjut membaca

Izinkan Aku Menciummu, Ibu

eramuslim – Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Lanjut membaca