CMS XOOPS

XOOPS adalah singkatan dari eXtensible Object Oriented Portal System. XOOPS dulunya merupakan sebuah portal system, tapi pada akhirnya XOOPS berpindah jalur menjadi sebuah Content Management System. CMS/Content Management System XOOPS merupakan CMS yang bersifat open source yang berdasarkan pada bahasa pemograman PHP untuk website-nya. CMS/Content Management System XOOPS memungkinkan seorang administrator dengan mudah dapat membuat sebuah website dengan content yang bagus dan menarik serta memiliki fitur-fitur yang bagus tanpa harus menguasai suatu bahasa pemograman. CMS /Content Management System XOOPS cocok untuk membuat sebuah dynamic community website baik dalam skala kecil atau besar, intra company portals, weblogs dan yang lain, selain itu CMS /Content Management System ini dapat di-install ke Internet host yang men-support PHP web server dan data base.

Baca lebih lanjut

XML Tree

XML documents form a tree structure that starts at “the root” and branches to “the leaves”.

An Example XML Document

XML documents use a self-describing and simple syntax:

<?xml version=”1.0″ encoding=”ISO-8859-1″?>
<note>
<to>Tove</to>
<from>Jani</from>
<heading>Reminder</heading>
<body>Don’t forget me this weekend!</body>
</note>

The first line is the XML declaration. It defines the XML version (1.0) and the encoding used (ISO-8859-1 = Latin-1/West European character set).

The next line describes the root element of the document (like saying: “this document is a note”):

<note>

The next 4 lines describe 4 child elements of the root (to, from, heading, and body):

<to>Tove</to>
<from>Jani</from>
<heading>Reminder</heading>
<body>Don’t forget me this weekend!</body>

And finally the last line defines the end of the root element:

</note>

You can assume, from this example, that the XML document contains a note to Tove from Jani.

Don’t you agree that XML is pretty self-descriptive?

XML Documents Form a Tree Structure

XML documents must contain a root element. This element is “the parent” of all other elements.

The elements in an XML document form a document tree. The tree starts at the root and branches to the lowest level of the tree.

All elements can have sub elements (child elements):

<root>
<child>
<subchild>…..</subchild>
</child>
</root>

The terms parent, child, and sibling are used to describe the relationships between elements. Parent elements have children. Children on the same level are called siblings (brothers or sisters).

All elements can have text content and attributes (just like in HTML).


Example:

DOM node tree

The image above represents one book in the XML below:

<bookstore>
<book category=”COOKING”>
<title lang=”en”>Everyday Italian</title>
<author>Giada De Laurentiis</author>
<year>2005</year>
<price>30.00</price>
</book>
<book category=”CHILDREN”>
<title lang=”en”>Harry Potter</title>
<author>J K. Rowling</author>
<year>2005</year>
<price>29.99</price>
</book>
<book category=”WEB”>
<title lang=”en”>Learning XML</title>
<author>Erik T. Ray</author>
<year>2003</year>
<price>39.95</price>
</book>
</bookstore>

The root element in the example is <bookstore>. All <book> elements in the document are contained within <bookstore>.

The <book> element has 4 children: <title>,< author>, <year>, <price>.

Fungsi XML

XML is used in many aspects of web development, often to simplify data storage and sharing.

XML Separates Data from HTML

If you need to display dynamic data in your HTML document it will take a lot of work to edit the HTML each time the data changes.

With XML, data can be stored in separate XML files. This way you can concentrate on using HTML for layout and display, and be sure that changes in the underlying data will not require any changes to the HTML.

With a few lines of JavaScript, you can read an external XML file and update the data content of your HTML.

XML Simplifies Data Sharing

In the real world, computer systems and databases contain data in incompatible formats.

XML data is stored in plain text format. This provides a software- and hardware-independent way of storing data.

This makes it much easier to create data that different applications can share.

XML Simplifies Data Transport

With XML, data can easily be exchanged between incompatible systems.

One of the most time-consuming challenges for developers is to exchange data between incompatible systems over the Internet.

Exchanging data as XML greatly reduces this complexity, since the data can be read by different incompatible applications.

XML Simplifies Platform Changes

Upgrading to new systems (hardware or software platforms), is always very time consuming. Large amounts of data must be converted and incompatible data is often lost.

XML data is stored in text format. This makes it easier to expand or upgrade to new operating systems, new applications, or new browsers, without losing data.

XML Makes Your Data More Available

Since XML is independent of hardware, software and application, XML can make your data more available and useful.

Different applications can access your data, not only in HTML pages, but also from XML data sources.

With XML, your data can be available to all kinds of “reading machines” (Handheld computers, voice machines, news feeds, etc), and make it more available for blind people, or people with other disabilities.

XML is Used to Create New Internet Languages

A lot of new Internet languages are created with XML.

Here are some examples:

  • XHTML the latest version of HTML
  • WSDL for describing available web services
  • WAP and WML as markup languages for handheld devices
  • RSS languages for news feeds
  • RDF and OWL for describing resources and ontology
  • SMIL for describing multimedia for the web

If Developers Have Sense

If they DO have sense, future applications will exchange their data in XML.

The future might give us word processors, spreadsheet applications and databases that can read each other’s data in a pure text format, without any conversion utilities in between.

We can only pray that all the software vendors will agree.

Kerangka evaluasi situs web perguruan tinggi

Kehadiran situs web sebagai representasi di dunia maya saat ini merupakan satu hal yang sangat penting. Situs web merupakan gerbang pertama menemukan dan mengenal suatu organisasi di lingkungan dunia maya. banyak pihak yang mengandalkan ketersediaan situs ini untuk memperoleh informasi mengenai organisasi tersebut. Perguruan tinggi, sebagai sebuah organisasi yang bergerak dalam sektor layanan terhadap publik/masyarakat juga diharapkan oleh banyak pihak memiliki sebuah situs web yang representatif dan dapat memenuhi kebutuhan informasi khalayak, baik dari akademisi maupun masyarakat luas.

Evaluasi dalam bentuk apapun , memerlukan kerangka pemikiran dan implementasi, yang meliputi aspek penilaian, dasar penentuan kriteria evaluasi, penyusunan kriteria yang lebih rinci dan strategi implementasinya. Dalam tulisan ini akan diajukan satu kerangka evaluasi umum terhadap situs web yang disusun berdasarkan studi literatur terhadap beberapa contoh model evaluasi terhadap situs web dari berbagai organisasi/institusi yang pernah dipublikasikan. berbagai model evaluasi situs web tersebut kemudian dicoba dirangkum dan dipetakan berdasarkan sudut pandang pengguna/pengunjung web(web surfer), pengelola situs web (web owner), dan pengembang situs (web developer). Pemetaan terhadap tiga sudut pandang ini dilakukan untuk memperoleh satu aspek penilaian yang komprehensif meliputi sudut pandang internal dan eksternal organisasi. Untuk setiap sudut pandang, diidentifikasi beberapa kriteria umum sehingga diperoleh model umum kerangka evaluasi situs web. Model umum ini kemudian dianalisis lagi dan disesuaikan dengan keadaan di lapangan, sehingga akhirnya diperoleh kerangka evaluasi yang dapat secara spesifik diterapkan unutk web site perguruan tinggi, khususnya di Indonesia. beberapa pertimbangan yang dilakukan meliputi aspek kemampuan rata-rata organisasi perguruan tinggi dalam mengelola situs web dan ekspetasi masyarakat terhadap ketersediaan situs web dan kontennya (isi web). beberapa penyesuaian aspek penilaian terpaksa dilakukan mengingat peluang sulitnya mendapatkan data yang komprehensif jika harus membuat kerangka yang ideal.

Kerangka evaluasi yang dihasilkan lebih menekankan pada aspek pengguna (web surfer), khususnya dari kalangan akademisi, dengan pertimbangan kemudahan mencari responden dan pelaksanaan survey itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Implementasi web service untuk pengembangan sistem layanan pariwisata terpadu

Telah dibuat sebuah sistem infomasi kepariwisataan terpadu yang dikembangkan dengan menggunakan teknologi web-service. Untuk keperluan tersebut diuraikan contoh dua buah web-service yaitu web-service WisataBudayaJawa yang berfungsi untuk memberikan rekomendasi obyek-obyek wisata di propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan web-service Kurs yang berfungsi untuk memberikan informasi harian mengenai nilai tukar sejumlah mata uang asing terhadap mata uang rupiah. Kedua web-service tersebut saling diintegrasikan untuk memberikan gambaran mengenai sistem multi-tier serta dimanfaatkan untuk membangun sebuah program aplikasi web. Dari pengembangan sistem, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa web-service sangat efektif untuk digunakan dalam pengembangan aplikasi karena programmer hanya memberikan input ke webservice dan mengambil hasil pengolahan data atau output dari web-service. Sedangkan dari percobaan penggunaan web-service pada komputer dengan sistem operasi Linux menunjukkan bahwa web-service dapat digunakan pada komputer dengan sistem operasi yang berbeda dengan sistem operasi dimana web service tersebut dikembangkan. Baca lebih lanjut

Jaringan Informasi sekolah berbasis social network

c5Social network adalah sturktur sosial yang menghubungkan node-node dimana biasanya merupakan individu-individu atau organisasi. Dengan adanya social network , user dapat lebih leluasa menjalin jaringan informasi dengan user lain. Sehingga wawasan mengenai informasi khususnya pendidikan akan semakin bertambah. Pemanfaatan web ini diterapkan pada layanan departemen diknas dan sekolah-sekolah yang berkeinginan untuk menjalin hubungan yang berbasis social network.

RDFS Type Definitions untuk Ontology wisata

Events RDFS Type Hierarchy
<?xml version=”1.0″?>
<rdf:RDF
xmlns:rdf=”http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#&#8221;
xmlns=”http://www.owl-ontologies.com/Ontology1164049376.owl#&#8221;
xmlns:xsd=”http://www.w3.org/2001/XMLSchema#&#8221;
xmlns:rdfs=”http://www.w3.org/2000/01/rdf-schema#&#8221;
xmlns:owl=”http://www.w3.org/2002/07/owl#&#8221;
xml:base=”http://www.owl-ontologies.com/Ontology1164049376.owl”&gt;
<rdfs:Class rdf:ID=”Events”/>
<rdfs:Class rdf:about=”Adventure”>
<rdfs:subClassOf rdf:resource=”Events”/>
</rdfs:Class>
<rdfs:Class rdf:about=”Bird_watching”>
<rdfs:subClassOf rdf:resource=”Adventure”/>
</rdfs:Class>
<rdfs:Class rdf:about=”Cattle_driving”>
<rdfs:subClassOf rdf:resource=”Adventure”/>
</rdfs:Class>
Baca lebih lanjut

Resource Description Framework

Resource Description Framework (RDF) merupakan sebuah model sederhana untuk mendeskripsikan hubungan antara sumber-sumber daya yang merupakan properti-properti dan values. RDF properti-properti dapat sebagai atribut dari sebuah sumber daya. RDF Properti-properti dapat mereprensentasikan hubungan antara sumber daya. RDF Data Model dapat disusun dari sebuah diagram entity-relationship, tetapi tidak menyediakan mekanisme untuk mendeskripsikan properti-properti-nya dan tidak dapat menyediakan mekanisme untuk menjelaskan hubungan antara properti-properti tersebut dengan sumber lain. RDF Vocabulary menyediakan bahasa untuk mendeskripsikan class dan properti-properti yang dapat digunakan untuk menjelaskan class dan properti-properti lain.

Sesungguhnya ‘arti’ kata menerangkan dalam RDF atau RDFS tergantung oleh beberapa faktor, termasuk peraturan sosial, bahasa natural atau penghubung ke dokumen lain. Banyak diantara arti-arti tersebut tidak dapat diakses oleh mesin.

RDF tidak memaksakan pembatasan logic pada domain dan range dari properti-properti. Dalam praktiknya sebuah properti-properti dapat diaplikasikan ke dalam dirinya sendiri. Sebagai contoh, diperbolehkan sebuah class ‘universal’ untuk menampung class-nya sendiri sebagai anggota, secara umum terdapat pada klasifikasi teratas. Baca lebih lanjut

Komponen Ontology

Ontology menggunakan banyak variasi struktur, tergantung dari penggunaan bahasa ontology termasuk sintaksis yang digunakan. Perlu diingat adalah ontology tidak melakukan apapun, fungsi perhitungan dan lainnya yang memproses ontology tidak hanya tergantung dari data yang terdapat dalam ontology tersebut, tetapi juga tergantung kepada aplikasi yang digunakan. Ontology memiliki beberapa komponen yang dapat menjelaskan ontology tersebut, diantaranya :

  • Konsep (Concept)

Digunakan dalam pemahaman yang luas. Sebuah konsep dapat sesuatu yang dikatakan, sehingga dapat pula merupakan penjelasan dari tugas, fungsi, aksi, strategi, dan sebagainya. Concept juga dikenal sebagai class, object dan catagories.

  • Relasi (relation)

merupakan representasi sebuah tipe dari interaksi antara konsep dari sebuah domain. Secara formal dapat didefinisikan sebagai subset dari sebuah produk dari n set, R:C1 x C2 X . . . x Cn. Sebagai contoh dari relasi binari termasuk subclass-of dan connected-to.

  • Fungsi (functions)

adalah sebuah relasi khusus dimana elemen ke n dari relasi adalah unik untuk elemen ke n-1. F:C1 x C2 x . . . Cn-1 ¡ > Cn, contohnya adalah Mother-of.

  • Aksiom (axioms)

digunakan untuk memodelkan sebuah kalimat (sentence) yang selalu benar.

  • Instances

digunakan untuk merepresentasikan elemen.

Ontology

Pengertian ontology sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu, ada beberapa definisi ontology yang didefinisikan oleh Neches memberikan definisi awal tentang ontology yaitu “Sebuah ontology merupakan definisi dari pengertian dasar dan relasi kosakata dari sebuah area sebagaimana aturan dari kombinasi istilah dan relasi untuk mendefinisikan kosakata”.

Kemudian Gruber memberikan definisi yang sering digunakan oleh beberapa orang, definisi tersebut adalah ” Ontology merupakan sebuah spesifikasi eksplisit dari konseptualisme”. Berdasarkan definisi Gruber tersebut banyak orang yang mengemukakan definisi tentang ontology diantaranya Guarino dan Giaretta  yang pada tahun 1995 mengumpulkan hingga tujuh definisi yang berkoresponden dengan syntactic dan semantic interpretasi. Sedangkan pada tahun 1997, Borst melakukan penambahan dari definisi Gruber dengan mengatakan “Sebuah ontology adalah spesifikasi formal dari sebuah konseptual yang diterima (share)”. Kemudian oleh Studer  mencoba mengemukakan definisi tentang ontology yang mengambil acuan dari definisi yang dikemukakan oleh Gruber dan Borst, definisi tersebut adalah : “Konseptualisasi mengacu kepada sebuah model abstrak dari beberapa fenomena di dunia dengan memiliki identifikasi konsep yang relevan dari fenomena tersebut.

Yang dimaksud dengan eksplisit adalah tipe dari konsep yang digunakan dan batasan dari eksplisit yang digunakan. Shared adalah merefleksikan sebuah ontology mencoba menangkap pengetahuan secara konsesus yang tidak merupakan hal yang hanya terkait pada individu tetapi diterima oleh sebuah group/domain”.

Barnaras  pada proyek KACTUS memberikan definisi ontology yang berdasarkan pada pengembangan ontology. Definisi yang diberikan adalah : “Sebuah ontology memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah basis pengetahuan”. Proyek SENSUS  juga memberikan definisi : “Sebuah ontology adalah sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah basis pengetahuan”. Ada buku yang memberikan definisi tentang Ontology, salah satunya adalah “The Semantic web” , definisi dari Ontology adalah :

  1. Salah satu cabang metafisika yang terfokus pada alam dan hubungan antara mahluk hidup.
  2. Teori tentang sifat alami mahluk hidup. Ontology merupakan suatu teori tentang makna dari suatu obyek, property dari suatu obyek, serta relasi obyek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Pada tinjauan filsafat, ontology adalah studi tentang sesuatu yang ada. Selain itu ontology adalah sebuah konsep yang secara sistematik menjelaskan tentang segala sesuatu yang ada atau nyata.

Dalam bidang kecerdasan buatan, ontology memiliki dua pengertian yang berkaitan. Pertama ontology merupakan kosakata representasi yang sering dikhususkan untuk domain atau subyek pembahasan tertentu. Kedua, sebagai suatu body of knowledge untuk menjelaskan suatu bahasan tertentu. Literatur yang berisi tentang kecerdasan buatan banyak menjelaskan tentang definisi ontology, banyak yang bertentangan satu dengan yang lainya.

Tetapi dapat diambil kesimpulan, ontology adalah sebuah uraian formal yang menjelaskan tentang sebuah konsep dalam sebuah domain tertentu (class, terkadang disebut konsep), properti-properti dari masing-masing konsep menjelaskan bermacam-macam corak dan atribut dari sebuah konsep (slots, terkadang disebut roles atau properti-properti), dan batasan-batasan (facets, terkadang disebut role restrictions). Sebuah ontology bersama dengan beberapa set instances dari class membentuk sebuah presentasi pengetahuan. Secara umum, ontology digunakan pada kecerdasan buatan dan persentasi pengetahuan. Segala bidang ilmu yang ada di dunia, dapat menggunakan metode ontology untuk dapat berhubungan dan saling berkomunikasi dalam hal pertukaran informasi antara sistem-sistem yang berbeda.