Deteksi Tepi

Yang dimaksud dengan tepi (edge) adalah batas antara dua daerah dengan nilai gray-level yang relatif berbeda atau dengan kata lain edge merupakan tempat-tempat yang memiliki perubahan intensitas yang besar dalam jarak yang pendek

Deteksi tepi (Edge Detection) pada suatu citra adalah suatu proses yang menghasilkan tepi-tepi dari obyek-obyek citra, tujuannya adalah :

  1. Untuk menandai bagian yang menjadi detail citra
  2. Untuk memperbaiki detail dari citra yang kabur, yang terjadi karena error atau adanya efek dari proses akuisisi citra

Proses pencarian edge dilakukan dengan menggunakan teknik spatial (proses konvolusi)

Pada gambar terlihat bahwa hasil deteksi tepi berupa tepi-tepi dari suatu gambar. Bila diperhatikan bahwa tepi suatu gambar terletak pada titik-titik yang memiliki perbedaan tinggi.

Sebenarnya ada beberapa teknik untuk medeteksi tepi. Teknik untuk mendeteksi tepi yaitu :

1.  Operator gradien pertama, contoh beberapa gradien pertama yang dapat digunakan untuk mendeteksi tepi di dalam citra, yaitu operator gradien selisih-terpusat, operator sobel, operator prewitt, operator roberts, operator canny.

2.  Operator turunan kedua, disebut juga operator laplace. Operator laplace mendeteksi lokasi tepi khususnya pada citra tepi yang curam. Pada tepi yang curam, turunan keduanya mempunyai persilangan nol, yaitu titik di mana terdapat pergantian tanda nilai turunan kedua, sedangkan pada tepi yang landai tidak terdapat persilangan nol. Contohnya adalah operator laplacian gaussian, operator gaussian.

3.  Operator kompas, digunakan untuk mendeteksi semua tepi dari berbagai arah di dalam citra. Operator kompas yang dipakai untuk deteksi tepi menampilkan tepi dari 8 macam arah mata angin yaitu utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat, barat daya, dan barat laut. Deteksi tepi dilakukan dengan mengkonvolusikan citra dengan berbagai mask kompas, lalu dicari nilai kekuatan tepi (magnitude) yang terbesar dan arahnya. Operator kompas yang dipakai untuk deteksi tepi menampilkan tepi dari 8 macam arah mata angin, yaitu utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat, barat daya, dan barat laut.

Konversi Citra True Color ke Grayscale

Konversi Citra True color ke Grayscale mengubah nilai pixel yang semula mempunyai 3 nilai yaitu R, G, B menjadi satu nilai yaitu keabuan. Berikut persamaan yang digunakan untuk mendapatkan nilai keabuan :

Ki = wRRi +wGGi +wBBi

Dimana :

Ki : nilai keabuan pada pixel ke i

wR : bobot untuk elemen warna merah

wG : bobot untuk elemen warna hijau

wB : bobot untuk elemen warna biru

Ri : nilai intensitas elemen warna merah

Bi : nilai intensitas elemen warna biru

Gi : nilai intensitas elemen warna hijau

NTSC (National Television System Committee) mendefinisan bobot untuk konversi citra true color ke greyscale sebagai berikut : wR = 0.299, wB = 0.587, wG = 0.114. Data masukkan berupa citra True Color dan data keluaran berupa citra Grayscale

Citra True Color

Citra true color adalah representasi citra berwarna yang memiliki tiga komponen utama yaitu merah ,hijau dan biru (RGB). Masing-masing komponen pada citra true color mempunyai 256 kemungkinan nilai sehingga secara keseluruhan citra true color memiliki total 16.777.216 kemungkinan warna.

Citra Grayscale

Berbeda dengan citra biner , citra greyscale disebut juga dengan citra 8-bit karena memiliki 28 (256) kemungkinan nilai pada masing-masing pixelnya. Nilai tersebut dimulai dari nol untuk warna hitam dan 255 untuk warna putih.

Citra Biner

Citra Biner disebut juga dengan bi-level adalah citra digital yang hanya mempunyai dua kemungkinan nilai pada pixel-pixelnya (hitam atau putih). Citra biner biasanya dihasilkan melalui proses segmentasi ataupun proses tresholding, atau dihasilkan beberapa alat-alat input/output yang hanya mendukung citra biner seperti: printer laser dan mesin fax.

Citra Digital

Citra digital merupakan suatu matriks yang terdiri dari baris dan kolom, dimana setiap pasangan indeks baris dan kolom menyatakan suatu titik pada citra. Nilai matriksnya menyatakan nilai kecerahan titik tersebut. Titik-titik tersebut dinamakan sebagai elemen citra, atau pixel (picture element).

Citra digital adalah suatu citra f(x,y) yang memiliki koordinat spatial, dan tingkat kecerahan yang diskrit. Citra yang terlihat merupakan cahaya yang direfleksikan dari sebuah objek. Fungsi f( x,y) dapat dilihat sebagai fungsi dengan dua unsur. Unsur yang pertama merupakan kekuatan sumber cahaya yang melingkupi pandangan kita terhadap objek (illumination). Unsur yang kedua merupakan besarnya cahaya yang direfleksikan oleh objek ke dalam pandangan kita (reflectance components). Keduanya dituliskan sebagai fungsi i(x ,y) dan r(x,y) yang digabungkan sebagai perkalian fungsi untuk membentuk fungsi f(x,y). Fungsi f(x,y) dapat dituliskan dengan persamaan :

F(x,y)=i(x,y) * r(x,y) Dimana  0<i(x,y)<~ dan 0<r(x,y)<1

Lanjut membaca