Aplikasi akad pembiayaan dan pengolahan harta secara syariah berbasis web

Pada proyek akhir ini, akan dibuat sebuah aplikasi pembiayaan dan pengolahan harta secara syariah berbasis web. Aplikasi yang dibuat meliputi zakat, warisan, asuransi, pembiayaan perbankan syariah dan pajak. Berikut ini landasan teori dari aplikasi yang akan dibuat :

1. Zakat

Zakat (pajak dalam Islam) adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Secara harfiah zakat berarti tumbuh, berkembang, menyucikan atau membersihkan. Sedangkan secara terminologi syariah, zakat merujuk pada aktivitas untuk memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu bagi orang-orang tertentu sebagaimana telah ditentukan di dalam Alquran. Adapun orang-orang yang boleh menerima zakat dibagi menjadi 8 golongan, yaitu: fakir, miskin, amil (penyelenggara zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), hamba sahaya, gharimin (orang yang berhutang), fisabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah) dan Ibnu Sabil (orang yang sedang dalam perjalanan). Hukum zakat adalah wajib (fardhu) bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada prinsipnya zakat dibagi menjadi dua, yaitu: zakat fitrah dan zakat maal/harta.
Zakat Fitrah
Adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Setiap muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin” (H.R Al Bukhary dan Muslim).
Jumlah zakat fitrah yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap hadits Nabi yaitu sebesar satu sha’ atau kira-kira setara dengan 3,1 liter/2,176 Kg makanan pokok (beras, tepung, gandum, kurma dll) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan2. Zakat fitrah dikeluarkan paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Sholat Ied (pada bulan Ramadhan). Jika waktu penyerahan melewati batas tersebut, maka yang diserahkan bukan sebagai zakat melainkan sedekah biasa.
Zakat Maal (Harta)
Zakat Maal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki individu atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan berdasarkan hukum (syara). Harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Milik penuh, yakni harta tersebut merupakan milik penuh individu yang akan mengeluarkan zakat.
2. Berkembang, yakni harta tersebut memiliki potensi untuk berkembang bila diusahakan.
3. Mencapai nisab, yakni harta tersebut telah mencapai ukuran/jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan.
4. Lebih dari kebutuhan pokok, orang yang berzakat hendaklah kebutuhan minimal/pokok untuk hidupnya terpenuhi terlebih dahulu.
5. Bebas dari hutang, bila individu memiliki hutang yang berakibat jumlah hartanya tidak terpenuhi nisab3 maka harta tersebut bebas dari kewajiban zakat.
6. Berlalu satu tahun (Al-Haul), kepemilikan harta tersebut telah mencapai satu tahun khusus ternak, harta simpanan dan harta perniagaan4.
Jenis-jenis Zakat Maal berdasarkan obyek zakatnya, yaitu:
– Hewan ternak, meliputi semua jenis dan ukuran ternak (misal: sapi, kerbau, kambing, domba, ayam).
2 Menurut Mazhab Syafi’i dan Maliki
3 Hutang tersebut bila dikonversikan ke harta yang dizakatkan mengakibatkan tidak terpenuhinya nisab serta akan dibayar pada waktu yang sama.
4 Harta pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak memiliki syarat haul.
– Hasil pertanian, yaitu hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan , dedauanan, dll.
– Emas dan Perak, meliputi harta yang terbuat dari emas dan perak dalam bentuk apapun.
– Hasil perniagaan, adalah semua komoditas yang diperjualbelikan dalam berbagai jenis, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan disini termasuk yang diusahakan secara perorangan maupun kelompok/korporasi.
– Hasil Tambang (Ma’din), meliputi hasil dari proses penambangan benda-benda yang terdapat dalam perut bumi/laut dan memiliki nilai ekonomis seperti minyak, logam, batu bara, mutiara, dll.
– Barang temuan (Rikaz), yakni harta yang ditemukan dan tidak diketahui pemiliknya.
– Zakat profesi, yakni zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi ini mencakup pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis dan wiraswasta.
Perhitungan Zakat Maal
1. Zakat Hewan Ternak
Perhitungan zakat untuk masing-masing tipe hewan ternak, baik nisab maupun kadarnya berbeda-beda serta sifatnya bertingkat. Sedangkan haulnya yakni satu tahun untuk tiap hewan.
Zakat
Jumlah
Besar Zakat
Keterangan

0-120 ekor
1 ekor kambing (2th) atau domba (1th)

121-200 ekor
2 ekor kambing/domba

Kambing Kambing baru wajib dizakatkan apabila pemilik memiliki sedikitnya 40 ekor kambing. Di bawah jumlah ini tidak wajib dizakatkan
201-300 ekor
3 ekor kambing/domba
Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 100 ekor, maka zakatnya bertambah 1 ekor.
30-39 ekor
1 ekor sapi jantan/betina tabi’
tabi’ : sapi berumur 1 tahun (masuk tahun ke-2)
40-59 ekor
1 ekor sapi jantan/betina musinnah’
musinnah : sapi berumur 2 tahun (masuk tahun ke-3)
60-69 ekor
2 ekor sapi jantan/betina tabi’

70-79 ekor
1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi’

Sapi
Sapi baru wajib dizakatkan apabila pemilik memiliki sedikitnya 30 ekor sapi. Di bawah jumlah ini tidak wajib dizakatkan.
80-89 ekor
2 ekor sapi musinnah
Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, zakatnya

Zakat Jumlah Besar Zakat Keterangan
bertambah 1 ekor tabi’. Dan jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor musinnah.
Ayam/Unggas/Ikan
Nisab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya unta, sapi, dan kambing. Tapi dihitung berdasarkan skala usaha. Nisab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang beternak unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 %.
2. Zakat Pertanian
Nisab hasil pertanian adalah 5 wasaq atau setara dengan 750 kg. Jumlah nisab pertanian tersebut adalah untuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, kurma, dll5. Untuk hasil pertanian yang bukan merupakan makanan pokok, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga, dll, maka nisabnya disetarakan dengan harga nisab dari makanan pokok yang paling umum di daerah (negeri) yang bersangkutan. Kadar zakat hasil pertanian, apabila diairi dengan air hujan, atau sungai/mata/air, adalah sebesar 10%. Sedangkan apabila diairi dengan cara disiram / irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya yaitu sebesar 5%. Imam Az Zarqoni berpendapat bahwa apabila pengolahan lahan pertanian diairi dengan air hujan (sungai) dan disirami (irigasi) dengan perbandingan 50;50, maka kadar zakatnya 7,5% (3/4 dari 1/10). Pada sistem pertanian saat ini, biaya tidak sekedar air, akan tetapi ada biaya lain seperti pupuk, insektisida, dll. Maka untuk mempermudah perhitungan zakatnya, biaya pupuk, insektisida dan sebagainya diambil dari hasil panen, kemudian sisanya (apabila lebih dari nisab) dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% (tergantung sistem pengairannya). Waktu pengeluaran zakat adalah setiap panen.
3. Zakat Perniagaan
Ketentuan zakat perniagaan adalah sebagai berikut:
1. Berjalan 1 tahun (haul)6.
2. Nisab zakat perdagangan sama dengan nisab emas yaitu senilai 85 gr emas.
3. Kadarnya zakat sebesar 2,5%.
5 Pendapat lain menyatakan bahwa zakat beras adalah sebesar 815 kg atau 1.481 kg gabah.
6 Pendapat Abu Hanifah lebih kuat dan realistis yaitu dengan menggabungkan semua harta perdagangan pada awal dan akhir tahun kemudian dikeluarkan zakatnya.

4. Dapat dibayar dengan uang atau barang.
5. Dikenakan pada perdagangan maupun perseroan.
6. Pada badan usaha yang berbentuk serikat (kerjasama), jika semua anggota serikat tersebut beragama Islam, maka zakatnya dikeluarkan terlebih dahulu. Tetapi jika anggota serikat terdapat orang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota serikat muslim saja (apabila jumlahnya lebih dari nisab).
Perhitungan besaran zakat perniagaan dalam rumus sederhana adalah sebagai berikut:
Besar Zakat = [(Modal diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan) – (hutang + kerugian)] x 2,5%
Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, agroindustri, ataupun jasa, dikelola secara individu maupun badan usaha (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, dll) nisabnya adalah 20 dinar (setara dengan 85 gram emas murni). Artinya, jika suatu badan usaha pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja dan untung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas7, maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%.
Untuk usaha yang bergerak dibidang jasa seperti perhotelan, penyewaan apartemen, taksi, penyewaan mobil, bus/truk, kapal laut, pesawat udara, dll, terdapat dua cara perhitungan zakat, yaitu:
• Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), seluruh harta kekayaan perusahaan dihitung, termasuk barang (harta) penghasil jasa, seperti taksi, kapal, hotel, dll, kemudian keluarkan zakatnya 2,5 %.
• Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan dengan perhitungan zakat hasil pertanian, dimana perhitungan zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya, tidak dihitung harga tanahnya.
4. Zakat Emas dan Perak
Hadits yang menyatakan kadar zakat emas dan perak adalah:
7 Misalnya, diasumsikan nisabnya sebesar Rp 6.375.000,- (85 gr x Rp 75.000).

“Bila engkau memiliki 20 dinar emas, dan sudah mencapai satu tahun, maka zakatnya setengah dinar (2,5%)” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Baihaqi).
Adapun nisab emas sebesar 85 gram, dengan haul selama satu tahun dan kadar 2,5%. Artinya bila seorang muslim memiliki emas setidaknya 85 gram selama satu tahun ia wajib membayar zakat sebesar 2,5% dari jumlah emasnya tersebut.
Emas yang tidak terpakai
Jenis emas yang termasuk dalam kategori ini adalah emas yang tidak digunakan sehari-hari baik sebagai perhiasan atau keperluan lain (disimpan). Contoh perhitungan zakatnya sebagai berikut: Fulan memiliki 100 gram emas tak terpakai, setelah genap satu tahun maka ia wajib membayar zakat sebesar 2,5 gram emas (100 x 2,5%). Jika harga emas saat itu adalah Rp 100.000, maka ia dapat membayar dengan uang sejumlah Rp 250.000 (2,5 x 100.000).
Sebagian emas terpakai
Emas yang dipakai adalah emas dalam kondisi wajar dan jumlah tidak berlebihan. Atas bagian yang terpakai tersebut, tidak diwajibkan membayar zakat. Contoh perhitungan zakatnya sebagai berikut: Seorang wanita mempunyai emas 120 gr, dipakai dalam aktivitas sehari-hari sebanyak 15 gr. Maka zakat emas yang wajib dikeluarkan oleh wanita tersebut adalah 120 gr – 15 gr = 105 gr. Bila harga emas Rp 70.000,- maka zakat yang harus dikeluarkan sebesar Rp 183.750 (105 x 70.000 x 2,5%).
Perak
Nisab perak adalah 595 gram, haul selama satu tahun dan kadar 2,5%. Adapun tatacara perhitungannya sama dengan zakat emas.
5. Zakat Hasil Tambang
Hasil tambang tidak mensyaratkan haul, zakatnya wajib dibayar ketika barang itu telah digali. Hal ini mengingat bahwa haul disyaratkan untuk menjamin perkembangan harta, sedang dalam hal ini perkembangan tersebut telah terjadi sekaligus, seperti dalam zakat tanaman. Semua hasil tambang yang digali secara terus-menerus harus digabung untuk memenuhi nisab. Jika penggalian itu terputus karena suatu hal yang
timbul dengan tiba-tiba, seperti reparasi peralatan atau berhentinya tenaga kerja, maka semua itu tidak mempengaruhi keharusan menggabungkan hasil galian. Bila galian itu terputus karena beralih profesi, karena pertambangan sudah tidak mengandung barang tambang yang cukup atau sebab lain, maka hal ini mempengaruhi penggabungan yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini harus diperhatikan nisab ketika dimulai kembali penggalian baru. Termasuk dalam barang tambang semua hasil yang digali dari daratan atau pun dari dasar laut8.
Tabel Zakat Tambang
No.
Jenis Tambang
Nisab
Kadar Zakat
Waktu Penyerahan
Keterangan
1
Tambang emas
senilai 91,92 gram emas murni
2,5%
Tiap tahun

2
Tambang perak
Senilai 642 gram perak
2,5%
Tiap tahun

3
Tambang selain emas dan perak, seperti platina, besi, timah, tembaga, dsb.
Senilai nisab emas
2,5%
Ketika memperoleh
Menurut Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’I, wajib dizakati apabila diperdagangkan (dikatagorikan zakat perdagangan). Menurut mazhab Hanafi, kadar zakatnya 20 %
4
Tambang batu-batuan, seperti batu bara, marmer, dsb.
Senilai nisab emas
2,5 %
Ketika memperoleh
Menurut Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’I, wajib dizakati apabila diperdagangkan (dikatagorikan zakat perdagangan).
5
Tambang minyak gas
Senilai nisab emas
2,5 %
Ketika memperoleh
Sda.
6. Zakat Profesi
Dalil nagli tentang zakat profesi adalah surat Al Baqarah ayat 267:
“Hai orang-orang yang berima! Nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik, bagitu juga hasil bumimu yang telah Kami keluarkan untukmu. Janagn sengaja kamu berikan, yang tidak baik, sedang kamu sendiri tidak mau menerimanya yang seperti itu kecuali dengan memicingkan mata. Ketahuilah! Bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
8 Hasil laut seperti mutiara, ambar dan marjan harus dizakati seperti zakat komoditas dagang.

Dalam hal pengeluaran zakat profesi terdapat perbedaan pendapat antara ulama diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pendapat As-Syafi’i dan Ahmad mensyaratkan haul (sudah cukup setahun) terhitung dari kekayaan itu didapat..
2. Pendapat Abu Hanifah, Malik dan ulama modern, seperti Muh Abu Zahrah dan Abdul Wahab Khalaf mensyaratkah haul tetapi terhitung dari awal dan akhir harta itu diperoleh, kemudian pada masa setahun tersebut harta dijumlahkan dan kalau sudah sampai nisabnya maka wajib mengeluarkan zakat..
3. Pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz dan ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka mengqiyaskan dengan zakat pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul: lama pengendapan harta).
Nisab zakat pendapatan/profesi merujuk pada nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras. Hal ini berarti bila harga beras adalah Rp 4.000/kg maka nisab zakat profesi adalah 520 dikalikan 4.000 yaitu sebesar Rp 2.080.000. Penghasilan profesi dari segi wujudnya berupa uang. Dari sisi ini, ia berbeda dengan tanaman, dan lebih dekat dengan emas dan perak. Oleh karena itu, kadar zakat profesi yang diqiyaskan dengan zakat emas dan perak, yaitu 2,5% dari seluruh penghasilan kotor.
Perhitungan Zakat Profesi
Menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara, yaitu:
1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulan, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% x 3.000.000 = Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.
2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap 8
bulan, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% x (1.500.000 – 1.000.000) = Rp 12.500 per bulan atau Rp 150.000,- per tahun.
Gerakan Sadar Zakat
Gerakan sadar Zakat, Infaq dan Shodaqoh (ZIS) dapat dipandang sebagai salah satu upaya dalam mengatasi kemiskinan. Telah diketahui bahwa sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, dan kondisi umat Islam masih jauh dari ideal, salah satunya adalah tingkat kemampuan ekonom umat yang masih rendah dan tidak merata. Zakat adalah salah satu di antara lima pilar yang menegakkan bangunan Islam. Di sisi lain, ia juga merupakan sebuah bentuk ibadah yang mempunyai keunikan tersendiri, karena di dalamnya terdapat dua dimensi, yakni dimensi kepatuhan atau ketaatan dalam konteks hubungan antara manusia dengan Allah, dan dimensi kepedulian terhadap sesama makhluk Allah, khususnya hubungan sosial sesama manusia.
Potensi zakat di Indonesia sangat tinggi. Data hasil survei PIRAC (organisasi sumber daya nirlaba dan independen) pada tahun 2002 menyebutkan bahwa potensi zakat di Indonesia adalah sebesar Rp 20 trilyun per tahun (Pikiran Rakyat, 28 Oktober 2005). Potensi tersebut belum dapat terserap sepenuhnya, dimana pada tahun 2002 di tingkat nasional hanya mampu terserap sebesar Rp 23,5 milyar. Sementara itu, hasil penelitian Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah dan Ford Foundation, jumlah filantropi (kedermawanan) umat Islam Indonesia mencapai Rp 19,3 trilyun terbagi dalam bentuk barang Rp 5,1 trilyun dan uang Rp 14,2 trilyun.
Besarnya potensi zakat tersebut, jika mampu direalisasikan tentu akan membantu mengatasi masalah kemiskinan umat. Oleh karena itu, kesadaran berzakat bagi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) adalah penting. Kesadaran tersebut meliputi bahwa mengeluarkan zakat itu adalah suatu ibadah wajib yang telah diperintahkan oleh Allah dan dengan begitu ia akan mendapatkan manfaat berupa pahala bagi dirinya (penyucian bagi diri dan hartanya) serta pahala karena telah memberikan sebagian hartanya untuk orang lain.
Referensi
http://www.pkpu.or.id/panduan.php?id=4
http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat
Pikiran Rakyat, “Potensi ZIS dan Problem Pengelolaannya”, Jumat, 28 Oktober 2005

Diantara akad-akad pembiayaan syariah yang populer dewasa ini dalam sistem perbankan kita terbagi berdasarkan beberapa kriteria, yaitu:
– Berdasarkan prinsip titipan atau simpanan (Depository)
– Berdasarkan prinsip bagi hasil (Profit sharing)
– Berdasarkan Prinsip Jual-Beli (Sale and Purchase)
– Berdasarkan Prinsip Sewa (Operational Lease and Financial Lease)
– Berdasarkan Prinsip Jasa (Fee-Based Services)

A. Prinsip Titipan atau Simpanan (Depository)

AL-WADI’AH

Pengertian:
Wadi’ah merupakan simpanan (deposit) barang atau dana kepada pihak lain yang bukan pemiliknya untuk tujuan keamanan. Wadi’ah adalah akad penitipan dari pihak yang mempunyai uang/barang kepada pihak yang menerima titipan dengan catatan kapanpun titipan diambil pihak penerima titipan wajib menyerahkan kembali uang/barang titipan tsb dan yang dititipi menjadi penjamin pengembalian barang titipan.

Landasan Syari’ah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (titipan) kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisaa: 58).
Abu Hurairah meriwayatkan bhw Rasulullah SAW bersabda: “Tunaikanlah amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah mengkhianatimu” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim).
Ijma para ulama terhadap legitimasi al-wadi’ah krn kebutuhan manusia thd hal itu sebagaimana dikutip oleh Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatiha.

B. Prinsip Bagi Hasil (Profit-Sharing)

1. AL-MUSYARAKAH (PARTNERSHIP, PROJECT FINANCING PARTICIPATION)

Pengertian:
Al-Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau amal (expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Landasan Syariah:
“…maka mereka berserikat pada sepertiga…” (QS. An-Nisa: 12)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satunya tidak mengkhianati lainnya” (HR. Abu Dawud dan Hakim)
Ijma para ulama sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya, al-Mughni telah berkata, “Kaum muslimin telah berkonsensus terhadap legitimasi musyarakah secara global walaupun terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa elemen darinya”.

Jenis-jenis al-Musyarakah:
Syirkah al-‘Inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja. Kedua pihak berbagi dalam keuntungan dan kerugian sebagaimana yang disepakati diantara mereka. Akan tetapi, porsi masing-masing pihak baik dalam dana maupun kerja atau bagi hasil, tidak harus sama dan identik sesuai dengan kesepakatan.Mayoritas ulama membolehkan jenis al-musyarakah ini.
Syirkah Mufawadhah adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja. Setiap pihak membagi keuntungan dan kerugian secara sama. Dengan demikian, syarat utama dari jenis al-musyarakah ini adalah kesamaan dana yang diberikan, kerja, tanggung jawab, dan beban utang dibagi oleh masing-masing pihak.
Syirkah A’mal adalah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu. Misalnya, kerjasama dua orang arsitek utk menggarap sebuah proyek atau kerjasama dua orang penjahit untuk menerima order pembuatan seragam sebuah kantor. Al-Musyarakah ini kadang-kdadang disebut musyarakah abdan atau sanaa’i.
Syirkah Wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi dan prestise baik serta ahli dalam bisnis. Mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan dan menjual barang tsb secara tunai. Mereka berbagi dalam keuntungan dan kerugian berdasarkan jaminan kepada penyuplai yang disediakan oleh tiap mitra. Jenis musyarakah ini tidak memerlukan modal karena pembelian secara kredit berdasar pada jaminan tsb. Karenanya, kontrak ini pun lazim disebut sebagai musyarakah piutang.

2. AL-MUDHARABAH (TRUST FINANCING, TRUST INVESTMENT)
Pengertian:
Mudharabah berasal dari kata dharb yang berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Secara teknis al-mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul mal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tsb.

Landasan Syariah:
“…dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari mencari sebagian karunia Allah SWT…” (QS. Al-Muzammil: 20).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdil Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas pada dana tersebut. Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah pun membolehkannya”. (HR. Thabrani).
Ijma para Sahabat sebagaimana dikutip oleh Imam Zaila’i, beliau menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara mudharabah.

Jenis-jenis al-Mudharabah:

Mudharabah Muthlaqah: adalah bentuk kerjasama antara shahibul mal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fiqih ulama salafus saleh seringkali dicontohkan dengan ungkapan if’al ma syi’ta(lakukanlah sesukamu) dari shahibul mal ke mudharib yang memberi kekuasaan sangat besar.

Mudharabah Muqayyadah: adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul mal dalam memasuki jenis dunia usaha.

3. AL-MUZARA’AH (HARVEST-YIELD PROFIT SHARING)

Pengertian:
Al-Muzara’ah adalah kerjasama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu (presentase) hasil panen.
Al-Muzara’ah seringkali diidentikan dengan mukhabarah. Diantara keduanya terdapat sedikit perbedaan sebagai berikut. Muzara’ah: benih dari pemilik lahan, sedangkan mukhabarah: benih dari penggarap.

Landasan Syariah:
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW pernah memberikan tanah Khaibar kepada penduduknya (waktu itu mereka masih Yahudi) untuk digarap dengan imbalan pembagian hasil buah-buahan dan tanaman.
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jbir yang mengatakan bahwa bangsa Arab senantiasa mengolah tanahnya secara muzara’ah dengan rasio bagi hasil 1/3:2/3 , 1/4:3/4 , 1/2:1/2, maka Rasulullah pun bersabda: “Hendaklah menanami atau menyerahkannya untuk digarap. Barangsiapa tidak melakukan salah satu dari keduanya, tahanlah tanahnya”
Ijma. Bukhari mengatakan bahwa telah berkata Abu ja’far: “Tidak ada satu rumahpun di Madinah kecuali penghuninya mengolah tanah secara muzara’ah dengan pembagian hasil 1/3 dan 1/4. Hal ini telah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdil Aziz, Qasim, Urwah, keluarga Abu Bakar dan keluarga Ali”.

4. AL-MUSAQAH (PLANTATION MANAGEMENT FEE BASED ON CERTAIN PORTION OF YIELD)
Pengertian:
Al-Musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara’ah dimana si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan. Sebagai imbalan si penggarap berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.

Landasan Syariah:
Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah SAW pernah memberikan tanah dan tanaman kurma di Khaibar kepada Yahudi Khaibar untuk dipelihara dengan mempergunakan peralatan dan dana mereka. Sebagai imbalan, mereka memperoleh persentase tertentu dari hasil panen.
Ijma. Telah berkata Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan penduduk Khaibar sebagai penggarap dan pemelihara atasdasar bagi hasil. Hal ini dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar, Ali, serta keluarga-keluarga mereka sampai hari ini dengan rasio 1/3 dan 1/4. Semua telah dilakukan oleh Khulafa ar-Rasyidin pada zaman pemerintahannya dan semua pihak telah mengetahuinya, tetapi tak ada seorangpun yang menyanggahnya. Berarti, ini adalah suatu ijma sukuti dari umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s