Bercermin pada Umar bin Abdul Azis

umar azisUmar bin Abdul Azis adalah khilafah bani Umayyah yang masyhur. Wilayah yang dipimpinnya membentang dari tepi laut Atlantik sampai ke daratan tinggi di Pamir. Suatu hari, ia duduk di ruang kerjanya mempelajari setumpuk dokumen negara. Cahaya lampu yang suram di kamarnya menambah ketenangannya. Khalifah hampir tidak mengetahui kehadiran istrinya, Fatimah, sampai ia menyapanya.

“Yang Mulia! maukah Anda memberikan waktu untukku sejenak? Saya ingin merundingkan masalah pribadi dengan Anda.” ‘Tentu saja,” jawab khalifah. “Tapi tolong matikan lampu itu, yang milik negara, dan nyalakan lampu kita sendiri. Aku tidak mau memakai minyak negara untuk pembicaraan pribadi.” Dan itu dipatuhi sang istri.

Pada suatu hari, Khalifah mengundang beberapa tokoh keluarga Umayyah untuk makan malam, tetapi sebelumnya ia telah memerintahkan juru masak agar menunda dulu penyiapan makanan. Ketika akhirnya para tamu mulai merintih kelaparan, baru khalifah berteriak agar juru masak segera menyediakan santapan,  tetapi ia memerintahkan agar sambil menunggu dihidangkan dulu roti panggang. Santapan sederhana ini langsung disantap Umar, yang diikuti para tamunya yang kelaparan. Beberapa waktu kemudian, juru masak muncul menghidangkan santapan yang sudah siap dimakan, tetapi ditolak oleh tamu-tamu itu. Alasannya, mereka sudah kenyang. Pernyataan itu segera ditanggapi khilafah, “Saudara-saudara! Jika Anda bisa memuaskan nafsu makan dengan makanan sederhana, lalu mengapa Anda suka sewenang-wenang dan merampas hak orang lain?” Ucapan itu ternyata sangat menggugah, sampai para bangsawan Umayyah itu meneteskan air mata.

Suatu hari isterinya mendapatkan ia sedang menangis di tikar shalat, yang mendorong wanita itu menanyakan sebab-sebabnya. Umar menjawab : ” O, Fatimah! Aku telah diangkat menjadi pemimpin kaum muslimin dan orang asing. Yang sedang aku pikirkan sekarang adalah nasib orang-orang miskin yang kelaparan, orang melarat yang sakit, yang tidak berpakaian dan menderita, yang tertindas, orang asing yang dipenjara, para sesepuh yang patut dimuliakan dan mereka yang berkeluarga besar hanya mempunyai sedikit uang, serta mereka yang berada di tempat-tempat yang jauh. Aku merasakan tentu Allah akan menanyakan keadaan mereka, yang berada di bawah kekuasaanku, pada hari kiamat. Aku takut tak ada sesuatu pembelaan yang dapat membantuku, karena itu aku menangis. ”

Umar tidak pernah mau menerima hadiah dari siapapun. Ia meyakini hadiah adalah bentuk penyuapan. Betul saja, ketika ia meninggal, hanya meninggalkan uang 17 dinar, dengan wasiat agar sebagiannya untuk sewa rumah tempatnya meninggal, sedang sebagian lagi ia minta dibayarkan untuk harga tanah tempatnya dimakamkan. Subhanallah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s