Prediksi Penyebab dan Solusi Ketidaknyamanan Kerja dengan Aplikasi Sistem Pakar

Pada umumnya industri kecil hanya menitikberatkan perhatian dalam upaya mengatasi masalah manajemen dan pemasaran. Sedangkan masalah kondisi kenyamanan dan lingkungan kerja seperti faktor ergonomi: sikap, posisi kerja, dan kepadatan kerja, kurang diperhatikan. Kondisi ini dapat mengakibatkan timbulnya rasa tidaknyaman dalam bekerja, yang dapat menyebabkan kecelakaan serta penyakit akibat kerja. Menurut Nurmianto (1996) Ergonomi berkenaaan pula dengan optimis, efesiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia ditempat kerja, di rumah dan tempat rekreasi. Didalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Dengan memanfaatkan ergonomi ditempat kerja, akan mengurangi potensi penyebab kecelakaan, menurunkan rasa sakit akibat kerja, dan meningkatkan penampilan serta produktivitas. Tempat kerja yang sangat rentan dan kurang diperhatikan dari segi ergonomi adalah industri rumah tangga, industri kecil dan industri kerajinan. Ergonomi berhubungan dengan ekonomi gerakan. Menurut Barnes (1980), bahwa pembahasan prinsip-prinsip ekonomi gerakan akan berhubungan dengan tubuh manusia dan gerakannya, pengaturan tata letak tempat kerja, dan perancangan peralatan. Disamping itu ergonomi memperhatikan lingkungan kerja. Kondisi lingkungan kerja yakni kondisi
lingkungan fisik dari ruangan dan fasilitas-fasilitas dimana manusia bekerja. Hal ini meliputi perancangan penerangan, suara, warna, temperatur, kelembaban, bau-bauan dan getaran pada suatu fasilitas kerja. Lingkungan kerja yang optimal sangat tergantung dengan kondisi dari aktivitas kerja yang dilakukan. Dengan demikian maka ergonomi juga berhubungan dengan antropometri yaitu pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi tubuh.
Salah satu industri rumah tangga adalah pekerja kaki lima. Industri mempunyai tempat kerja sangat rentan dan kurang mendapatkan perhatian dari segi ergonomi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dan solusi ketidaknyamanan kerja bagi para pekerja kaki lima. Untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan solusi ketidaknyamanan kerja sangat sukar dilakukan dengan baik dan cepat. Namun dengan perkembangan teknologi informasi saat ini indentifikasi faktor–faktor tersebut dengan mudah dapat dilaksanakan.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk kepentingan tersebut adalah dengan sistem pakar melalui metode sitem Jaringan Saraf Tiruan (JST). Metode ini pernah digunakan oleh Melawati (2003) untuk identifikasi faktor ketidaknyamanan kerja pada pengrajin patung primitif. Sedangkan Asmoro, et.al., (2003), menggunakan JST untuk memprediksi temperatur, kebisingan dan pencahayaan pada produksi resistor. Peneliti pertama, menggunakan sistem pakar metode JST dengan metode pelatihan Trainbp (metode pelatihan sederhana), sedangkan peneliti menggunakan JST untuk memprediksi jumlah output resistor. Pada makalah ini akan mempresentasikan hasil penelitian penggunakan JST-BP dengan metode pelatihan Trainbpx (adaptif learning rate) untuk mencari penyebab keluhan dan Learning Vector Quantization untuk memprediksi solusi ketidaknyaman kerja. Metode Trainbpx memberikan perubahan kecepatan belajar dan penambahan momentum sehingga tercapai konvergensi yang lebih cepat.

Chairul Saleh, Ade Trisna P.
Jurusan Tenik Industri, Fakultas Teknologi Industri,
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s