Pengukuran website e-government

Terdapat beberapa faktor untuk mengukur website, diantaranya :

1. Desain tampilan terdiri namadomain yang mudah diingat, tampilan keseluruhan dan aktivasi domain

2. Isi

  • Fasilitas e-mail, forum, dialog form, pencari link dan transaksi
  • Layanan publik/eksternal meliputi informasi publik, forum, pengaduan dan e-mail
  • Layanan pemerintah/internal meliputi e-mail internal, data pegawai, link ke lembaga pemerintah lain
  • Kesesuaian isi dengan visi misi lembaga
  • Updating data dan informasi  atau berita
Iklan

Kajian awal terhadap e-Government di Indonesia

Selama ini pemerintah Indonesia menerapkan sistem dan proses kerja yang dilandaskan pada tatanan birokrasi yang kaku. Sistem dan proses kerja semacam itu tidak mungkin menjawab perubahan yang komples dan dinamis, serta perlu ditanggapi secara cepat. Oleh karena itu pemerintah harus mengembangkan sistem dan proses kerja yang lebih fleksibel untuk memfasilitasi berbagai bentuk interaksi yang kompleks dengan lembaga-lembaga negara lain, masyarakat, dunia usaha dan masyarakat internasional. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengolah, mengelola , menyalurkan serta mendistribusikan informasi dan pelayanan publik. Untuk mewujudkan terciptanya sistem informasi nasional yang terintegrasi dan dapat menunjang pengelolaan negara diperlukan kesiapan infrastruktur aplikasi atau aplikasi e-government.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, lembaga/instansi Pemerintah Daerah (Pemda) yang memiliki situs web sebagai salah satu bentuk layanan masyarakat atau telah melaksanakan Inpres No 3 tahun 2003 masih rendah. Hal ini terlihat dari sedikitnya jumlah lembaga/instansi Pemda yang memiliki situs web. Berdasarkan data Depkominfo dari 471 pemda yang memiliki situs web hanya 226 pemda atau 48% . Dari jumlah ersebut , 198 situs (42%) yang dikelola secara aktif. untuk menguji kinerja website e-government yang dikelola instansi Pemda dalam memberikan pelayanan publik, maka perlu dilakukan evvaluasi website e-government di lingkungan instansi pemda.

Citizens4Citizens: Mapping Participatory Practices on the Internet

Many important forms of public participation take place in interactions between citizens. Studying these interactions is crucial for understanding e-governance, defined as steering in the public domain. The new forms of public participations can be labeled Citizens2Citizens interactions (C2C). Citizens use the Internet to facilitate policy participation (meant to support or undermine government policies), political participation (directed at influencing political decision-making and agenda-setting) and social participation (to increase social capital). Attention for these forms of digital participation coincides with the rise of a new set of Web applications which are grouped under the label ‘Web 2.0’. This paper is an attempt to conceptualize and categorize the wide variety of types and forms of C2C to provide a basis for a further development of this new research field. We do not claim that our exploration will lead to a final and complete description of C2C; we merely aim to present an overview of the diversity of forms of C2C initiatives that are taking place in the digital world. The argument we are putting forward is that new technologies offer new venues for participating and that these new practices will constitute both a replication of and an addition to existing offline practices of public participation. Our explorative research of C2C initiatives results in a map of political, policy and social participation. This map of C2C initiatives can provide insights in the variety of Internet practices and help subsequent researches in their selection of initiatives for in-depth studies. Additionally, our research results in an exploration of the implications the analyzed initiatives can have for participation in the public sector.

Baca lebih lanjut

Factors Influencing Government Employee Performance via Information Systems Use: an Empirical Study

Based on the task-to-performance chain, this study seeks to investigate the implications and consequences of government employee performance via information systems. Data was collected from 847 employees of the Taipei City government through the stratified proportion sampling method. In addition, the multiple regression method is used to investigate factors that influence employee performance. The results indicate that three factors affect performance: task-technology fit, computer self-efficacy, and utilization. Utilization was found to have the greatest positive effect on performance. In addition to verifying prior empirical findings, this study presents factors that influence employee performance and information systems development work in the context of e-government Baca lebih lanjut

e-Government Implementation and Leadership – the Brunei Case Study

Governments around the world are deploying electronic (e) government so as to reap the benefits and the promise brought upon by the advancement of Information and Communication Technologies (ICT). The implementation of many e-government projects, however, seems to have failed to achieve its full potential due to the complex nature of e-government. It is now realized that ICT diffusion is much more than just technological adoption and adaption. Many soft issues exist, particularly one that deals with the human side of technological implementation. This paper examines the core factor of leadership, which according to the findings of this paper, is of paramount importance to the successful implementation of e-government. The implementation process of e-government in Brunei is first discussed and then analysed from the leadership’s perspectives. Case studies on the experiences of implementing e-government projects in all the ministries in Brunei were conducted. Interviews with key players from each ministry were also conducted. This paper shows that poor identification of a champion in e-government resulted in inertia in initiating the e-government, silos (compartmentalization) among the government agencies, duplication of projects, poor change management strategy, lack of incentives to take risk, and the emergence of rank and file rather than top-down innovation approach. Several key learning points on leadership have been proposed in this paper with regard to all the identified leadership issues in implementing e-government.

Baca lebih lanjut

Measuring Users’ Satisfaction with Malaysia’s Electronic Government Systems

The research seeks to measure users’ satisfaction and identify the contributors of satisfaction. We used the end-user computing satisfaction (EUCS) model as the a priori model to measure internal end-users’ satisfaction with Malaysia’s electronic government systems. We gathered data from internal end-users at the level of officers and directors of Malaysia’s electronic government systems. Using the structural equation modeling approach, our results show that all five first-order factors, content, accuracy, timeliness, format and ease of use, explain the contributors of satisfaction. Further, our studies provide the evidence that in Malaysia’s electronic government context, end-users’ satisfaction priorities are timeliness, content and accuracy. This paper makes a significant contribution by applying the Information Systems body of knowledge to measure users’ satisfaction with Malaysia’s electronic government systems, test and validate the EUCS model in the context of Malaysia’s electronic government environment. The paper has enhanced our understanding of users’ demands for interactions with business, citizens and other government personnel in the Malaysian electronic government environment.

Baca lebih lanjut

Pemanfaatan model strategic alignment untuk penentuan layanan unggulan digital government service bidang kesehatan pada pemerintah daerah provinsi DIY

Jogja Cyber Province merupakan blue print yang menjadi acuan pengembangan e-government di Daerah Istimewa Yogyakarta yang melakukan transformasi layanan yang berorientasi pelanggan (masyarakat) dengan berbasis pada proses bisnis, informasi, dan pengetahuan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai akselerator pembangunan wilayah propinsi yang berdaya saing, nyaman, mandiri, efisien, dan efektif. Layanan yang berbasis pada Teknologi Informasi ini oleh Pemerintah Provinsi DIY dikemas dalam bentuk Digital Government Services (DGS) dimana pelayanan kepada masyarakat didukung (support) oleh teknologi yang menyediakan data dan informasi yang bersifat digital. DGS Bidang Kesehatan dikembangkan agar ruang pelayanan dapat informatif maupun interaktif kepada masyarakat. Sumber data dan informasi yang berasal dari kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan pada masing unit-unit organisasi Dinas Kesehatan Provinsi DIY ditransformasikan ke bentuk digital yang memanfaatkan teknologi informasi. Metode yang digunakan untuk pengembangan DGS Layanan Unggulan Bidang Kesehatan adalah dengan strategi Alignment Framework (Kerangka Keselarasan) dimana layanan teknologi informasi (TI) dikembangkan untuk mendukung tujuan organisasi yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga tercapai keselarasan antara tujuan organisasi dan arah pengembangan layanan TI serta konsekuensi yang ditimbulkan (biaya, perubahan organisasi, penambahan atau pengurangan sumberdaya manusia, dan lain-lain). Kerangka keselarasan ini membantu kedua belah pihak, yaitu organisasi secara umum dan penyedia/pengelola layanan TI agar dapat berinteraksi secara lebih sehat dan terarah.

Baca lebih lanjut

Good government via e-procurement system

Public procurement in government context involved complicated processes and too budget-consuming. Inadequate and not transparency information are the main factors that cause corruption and data manipulation. However, to avoid such problems, the development of web-based e-procurement system gives priority to integrity, transparency, accountability, fairness, economy, and efficiency is needed. The e-procurement system mentioned involved five main modules such as vendor management system, announcing the acquisition of good and services, electronic access to tender documents, tender submission document, and tender selection. This eprocurement system gives privileges to all of the committee members in calculating marks to determine the winners based on their committee position. Moreover, this e-procurement system can automatically alert important events such as the due date of registration, the marking date, and the date of winner announcement. By using this e-procurement system, three stakeholders can see the benefits. First, in term of government side where reducing procurement cost, transparency, time saving, access to new supplier, and blacklist vendor. Second, in term of vendor’s side where reducing cost, accessing to new buyers and increasing sales. Third, in term of public society where adequate information, and public trusts. Hopefully, good governance can be achieved by implementing this e-procurement system. Baca lebih lanjut

Semantic Web sebagai solusi masalah dalam e-tourism di Indonesia

Teknologi informasi telah menjadi komponen penting dalam berbagai bidang, termasuk industri pariwisata yang meliputi promosi, pemasaran, dan penjualan produk pariwisata (e-commerce dalam industri pariwisata). Pariwisata berbasis teknologi informasi dikenal sebagai e-tourism (IT-enabled tourism). Permasalahan etourism di Indonesia adalah belum optimalnya pemasaran paket wisata karena informasi yang diberikan pada website pariwisata tidak bersifat interaktif dengan wisatawan yang membutuhkan informasi lengkap, juga belum terintegrasinya website-website pariwisata dengan sistem informasi komponen lain dalam industri pariwisata, seperti perusahaan penerbangan, pelayaran, asuransi, agen travel, hotel, dan pengelola obyek wisata sendiri. Tulisan ini mengkaji permasalahan promosi dan pemasaran pariwisata berbasis teknologi informasi di Indonesia dan bagaimana pemanfaatan semantic web untuk membantu memecahkan permasalahan yang ada. Dari penerapan teknologi semantic web dalam e-tourism di Eropa, disimpulkan bahwa teknologi ini dapat menjadi solusi masalah e-tourism di Indonesia, yaitu dengan membuat suatu tourism ontologi untuk melakukan anotasi semantic pada informasi pariwisata, sehingga informasi terintegraskan. Selain itu dibuat suatu aplikasi
portal pariwisata sehingga calon wisatawan dapat mencari informasi paket wisata secara lengkap. Pencarian informasi menggunakan hubungan semantic antar informasi pariwisata dari berbagai sumber yang telah dianotasi menggunakan tourism ontologi. Hal ini menguntungkan calon wisatawan, juga perusahaan yang bergerak dalam bidang pariwisata, karena informasi pada web miliknya berguna lebih optimal sehingga dapat meningkatkan promosi dan pemasaran produknya.

Baca lebih lanjut

Kajian aspek kesiapan daerah dalam implementasi e-business

c9Salah satu kunci sukses pembangunan e-business adalah kesiapan SDM pemerintah berwawasan teknologi informasi (TI). Banyak pemda mengartikan pembangunan e-Government/e-Business hhanya dengan pembelian perlengkapan yang serba berbau TI. Membeli komputer, pprinter, server, memakai aplikasi-aplikasi (SIMDUK, SIAK dan sebagainya) membangun jaringan LAN, mempunyai koneksi internet berkapasitas besar dan sebaginya yang serba canggih. memang itu bukan tindakan yang salah karena e-Government tidak dapat lepas dari perlengkapan TI sebagai sarana untuk menunjang pekerjaan aparat pemerintah. Tetapi yang disayangkan adalah jika sederet perlengkapan TI tersebut akhirnya kurang bermanfaat karena jarang digunakan secara maksimal atau tidak digunakan sama sekali oleh aparat pemerintah. Salah satu faktor penyebabnya adalah pemahaman aparat pemerintah terhadap dunia TI memang masih terbatas. Kenyataannya, kendala yang sering ditemui dalam mewujudkan e-Government di sebuah daerah/lembaga adalah masih sedikit aparat pemerintah yang melek teknologi atau sering disebut sebagai SDM telematika.

Manfaat e-government

n2Isu-isu kuat implementasi e-govenment adalah mewujudkan good governance , menekan korupsi, mekanisme lebih transparan , memperbaiki produktivitas dan efisiensi birokrasi, dengan keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan di bidang pemerintahan.

Ketika e-government dapat diimpementasikan dengan sempurna, tentunya akan memberikan pelbagai manfaat dan perubahan, seperti :

1. terjadinya pergeseran dari paradigma birokrasi ke paradigma e-government sebagaimana tabel berikut

Tabel 1. Pergeseran Paradigma dalam Penyampaian Pelayanan Publik.

    Paradigma Birokratis Paradigma e-government
    Orientasi Efisiensi biaya produksi Fleksibel, pengawasan dan kepuasan pengguna (customer).
    Proses organisasi Merasionalisasikan peranan, pembagian tugas dan pengawasan hirarki vertikal Hirarki horisontal, jaringan organisasi dan tukar informasi
    Prinsip manajemen Manajemen berdasarkan peraturan dan mandat (perintah) Manajemen bersifat fleksibel, team work antar departemen dengan koordinasi pusat.
    Gaya kepemimpinan Memerintah dan mengawasi Fasilitator, koordinatif dan entrepreneurship inovatif.
    Komunikasi internal Hirarki (berperingkat) dan top-down Jaringan banyak tujuan dengan koordinasi pusat dan komunikasi langsung.
    Komunikasi eksternal Terpusat, formal dan saluran terbatas Formal dan informal, umpan balik langsung, cepat dan banyak saluran
    Cara penyampaian pelayanan Dokumen dan interaksi antar personal Pertukaran elektronik dan interaksi non face-to-face.
    Prinsip-prinsip penyampaian pelayanan Terstandarkan, keadilan dan sikap adil Penyeragaman bagi semua pengguna dan bersifat personal.

2. membuat mudah bagi setiap warga negara memperoleh pelayanan dan interaksi dengan pemerintahnya , memperbaiki efisien dan efektivitas dan memperbaiki tanggapan/tanggungjawab sistem pemerintahan kepada warga negaranya. Selanjutnya akan memberikan value, seperti : penyederhanaan pelayanan, menghilangkan lapisan-lapisan pelayanan, memungkinkan semua warga negara memperoleh informasi dan pelayanan lebih mudah, meringkas transaksi melalui integrasi sistem pemerintahan dan aliran operasional sistem pemerintahan dapat dilakukan lebih cepat.

3. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat , memperbaiki proses keterbukaan dan akuntabilitas di lingkungan pemerintahan , mereduksi biaya transaksi, terjadi komunikasi dan interaksi pada proses pemerintahan dan menciptakan masyarakat berbasis komunitas informasi yang lebih berkualitas.

4. pemerintah tidak tertutup dengan warga negara karena tersedianya akses informasi, pelayanan yang modern, antar lembaga pemerintah dapat berkomunikasi dan kerja lebih efisien dan efektif serta memungkinkan meningkatkan pendapatan dari pajak.

Baca lebih lanjut

Konsep Teknologi Informasi untuk Implementasi Single Identify Number (SIN) di Indonesia

numberIndonesia sebagai negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk sangat besar dengan jumlah instansi kependudukan yang tersebar di segala penjuru negara kepulauan ini memiliki banyak sekali permasalahan terkait dengan administrasi data dan informasi kependudukan tersebut. Banyaknya instansi yang masing-masing mengeluarkan identitas untuk satu individu dengan pola dan format penomoran yang berbeda-beda dan tidak adanya keterhubungan antara data di suatu instansi dengan instansi yang lain telah memunculkan adanya redundansi data yang menyebabkan terjadinya inefisiensi. bahkan hal ini juga telah memicu banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan baik oleh pegawai suatu instansi maupun oleh masyarakat itu sendiri.

Permasalahan yang berkepanjangan ini dapat dipecahkan dengan adanya penerapan sebuah konsep penomoran tunggal dalam bentuk Single Identify Number (SIN) bagi suatu individu. Tidak adanya lagi duplikasi data atau informasi yang tidak akurat merupakan dampak positif yang bisa diperoleh dengan implementasi SIN di Indoenesia. Implementasi sistem SIN juga akan menghubungkan setiap instansi yang ada di negara ini agar dapat salaing bertukar informasi tentang seseorang individu.